Sambut Relaksasi KPR, Apersi Targetkan Bangun 150.000 Rumah

Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia ( Apersi ) bakal menargetkan pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebnayak 150.000 unit tahun ini. Karena itu berharap pemerintah dan perbankan untuk mempermudah proses regulasi, di tengah pandemi covid-19 ini.

“Target kami sebenarnya tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, sebanyak 150.000 unit rumah MBR, meski kenyataan pada saat pandemi ini hanya mampu membangun 80.000 unit,” kata Ketua Umum DPP Apersi, Junaidi Abdillah, di Jakarta, Senin (22/2).

Menurut Jundaidi, dampak pandemi Covid-19, memang sangat terasa bagi bisnis properti seperti perumahan. Tidak hanya berdampak kepada kelas menengah atas saja, tetapi juga menengah bawah. Karena perusahaan kebutuhan material banyak yang tutup dan mengganggu proses pembangunan.

BACA JUGA

Relaksasi Kredit Mobil dan Rumah Bisa Tingkatkan Konsumsi 0,5%

“Pastinya dampak itu ada, coba rencana bangun 150.000 unit hanya terbangun 80.000 unit, yang dikembangkan oleh Apersi,” katanya.

Karena itu, lanjut dia berharap dengan adanya vaksinasi, suku bunga perbankan yang rendah dan kebijakan pemerintah yang memudahkan developer MBR, bisa membangun rumah lebih besar lagi. Apalagi anggara sektor perumahan untuk subsidi sudah mulai meningkat. “Meski anggaran masih terbatas tetapi sudah ada kenaikan dan ini sebagai langkah positif kedepan,” katanya.

Sehingga tahun 2021, Apersi bisa mampu membangun 150 ribu unit rumah dan bisa membantu masyarakat kecil mendapatkan rumah yang layak. Apersi juga mengusulkan agar kuota rumah subsidi itu ditambah. Kemudian memperpanjang jangka waktu cicilan KPR dan tingkat suku bunga yang disubsidi.

BACA JUGA

Apersi Masih “Berharap” Insentif Rumah MBR

Di sisi porsi pembiayaan, di mana pemerintah sebesar 75% dan SMF (Sarana Multigriya Finansial) sebesar 25%, bisa dievaluasi misalnya pemerintah 50%, SMF 25%, dan bank pelaksana 25%.

“Selain itu, kelompok sasaran (penerima subsidi) juga perlu divaluasi dari sisi penghasilan keluarga. Misalnya, penghasilan keluarga kurang dari Rp4 juta, atau di kisaran Rp4 juta sampai dengan Rp6 juta, sehingga bisa diberikan suku bunga yang sesuai dengan penghasilan keluarga,” jelasnya.

Berita terkait: