Rencana Moda Transportasi Berbasis Rel di Depok Dibahas BPTJ

Rencana moda transportasi rel berbasis rel tunggal atau monorel untuk mengatasi kemacetan di Kota Depok saat ini tengah memasuki tahap studi outline business case (OBC) yang dilakukan oleh Badan Pengelola Trasnportasi Jabodetabek (BPTJ).

Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana menuturkan, Dinas Perhubungan Kota Depok sudah melakukan studi pra- feasibility study (FS). Kemudian hasil dari pra-FS tersebut dikerahkan kepada BPTJ.

“Sudah kami serahkan ke BPTJ. Nanti ditindaklanjuti oleh BPTJ dengan studi OBC. Ini memang BPTJ yang menindaklanjuti karena dari segi anggaran, mereka lebih mumpuni,” ujar Dadang di Depok, Jawa Barat, Jumat (16/10/2020).

BACA JUGA

DPRD Depok Dukung Pembangunan Transportasi Berbasis Rel

Dikatakan Dadang, yang tengah dilakukan studi OBC oleh BPTJ adalah koridor moda transportasi berbasis rel tunggal untuk koridor Stasiun Depok Baru-Bojongsari-Parung. “Ini satu koridor ya . Totalnya ada empat koridor,” kata Dadang.

Rencana moda transportasi rel berbasis tunggal ini sebelumnya diutarakan oleh Wali Kota Depok, Mohammad Idris. Proyek ini akan menelan dana sebesar Rp12 triliun untuk empat koridor.

Idris menuturkan, keempat koridor tersebut, yakni koridor 1 sepanjang 10,8 kilometer (km) dari Transit Oriented Development (TOD) Pondok Cina sampai Stasiun LRT Cibubur.

BACA JUGA

Depok Butuh Rp 12 Triliun Bangun Transportasi Berbasis Rel

Selanjutnya, Koridor 2 sepanjang 16,7 km dari TOD Depok Baru sampai Cinere, dan diharap terkoneksi dengan stasiun MRT Lebak Bulus.

Koridor 3 sepanjang 10,7 km dari TOD Depok Baru sampai Bojongsari. Terakhir, koridor 4 sepanjang 13,8 km dari TOD Depok Baru sampai TOD Gunung Putri.

Berita terkait: