Pupuk Batu Bara Jadikan RI Lumbung Pangan Dunia

Forum Komunikasi Doa Bangsa (FKDB) gencar menyosialisasikan teknologi pupuk batu bara untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Pupuk batu bara dinilai tepat, karena dengan luas sawah yang tetap, bisa menghasilkan panen padi lebih banyak. Produksi pupuk ini sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat, terutama di daerah lumbung padi.

Ketua Umum FKDB Ayep Zaki menyebutkan pupuk batu bara memiliki keunggulan yaitu pembenahan tanah, meningkatkan produktivitas tanaman dan ramah lingkungan. “Dengan menggunakan pupuk batu bara, maka produktivitas satu hektare bisa meningkat sampai 30%” kata dia dlaam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10/2020).

BACA JUGA

Usung 3 Program Kerja, Ayep Zaki Bawa FKDB Berkembang Wadahi UMKM

Menurut pria yang akrab disapa Aa Zaki, FKDB telah memproduksi pupuk batu bara yang diberi label Futura di pabrik yang berlokasi di Sentra Industri Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Produksi pupuk berbahan batu bara ini sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat, terutama di daerah lumbung padi. “Teknologi produksi pupuk batu bara ini satu-satunya di dunia dan dibutuhkan seluruh negara. Dengan pupuk ini, Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia,” papar dia.

Pupuk berbahan baku batu bara merupakan fosil tumbuhan yang terawetkan dan punya kandungan unsur hara yang nyaris sempurna seperti nitrogen, kalium, posfat, hidrogen, phospor, zeng, calsium, besi dan lainnya. “Pupuk berbahan dasar batu bara adalah pupuk organik yang terbaik,” ujar Aa Zaki.

Pupuk batu bara bermanfaat bagi tanaman padi, sayur, buah, maupun palawija. Dengan menggunakan pupuk batu bara akan meningkatkan produksi panen baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, pupuk ini mampu memperbaiki alih struktur tanah sehingga meningkatkan kesuburannya dari musim ke musim. Dengan meningkatnya produktivitas pertanian, otomatis pendapatan petani meningkat.

Penggunaan pupuk organik batu bara, lanjut Zaki, lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia anorganik atau pupuk kimia buatan. Pupuk yang telah diuji coba di 16 provinsi ini bisa meningkatkan rata-rata produksi per hektare sebesar 43%. Bila rata-rata produksi per hektare petani kita 5,2 ton, maka dengan pengunaan pupuk batu bara bisa mencapai 7,4 ton.

Pupuk batu bara ini telah mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan kedatangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional di pabrik, Juli 2020 lalu. Selain itu, dikunjungi anggota DPR RI Komisi VIII Maman Imanul Haq.

Pupuk batu bara ini juga sudah mendapatkan hak paten dari United States Paten and Trademark Office (USPTO) untuk teknologi produksi pupuk berbahan dasar batu bara pada 16 Juni 2020 lalu.

Saat ini, pupuk batubara sudah diproduksi dan dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia, khususnya Jawa sebagai wilayah lumbung padi nasional. FKDB juga akan membuka pabrik-pabrik pupuk batu bara di setiap provinsi di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Berita terkait: