Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Februari 2021, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya

Puasa sunnah Ayyamul Bidh ditunaikan pada hari pertengahan bulan. Jadwal untuk bulan ini dilaksanakan pada 25, 26, dan 27 Februari 2021, yakni hari Kamis hingga Sabtu besok.

Berdasarkan kalender tahun 1442 hijriah, tanggal 1-12 Februari masuk dalam bulan Jumadil Akhir. Serta di tanggal 13-28 Februari masuk dalam bulan Rajab. Sehingga puasa sunnah Ayyamul Bidh jatuh di 13, 14, dan 15 Rajab.

Puasa sunnah Ayyamul Bidh dikenal oleh sebagian orang sebagai puasa putih. Karena biasanya ada bulan purnama, tengah bercahaya dengan warna putih di malam-malam tersebut. Terdapat kisah lain pula yang menjadi dasar penamaan puasa putih, yang akan dijabarkan dalam artikel ini.

Patut diketahui, ada banyak keutamaan di balik puasa sunnah Ayyamul Bidh. Sebagai umat Islam, alangkah baiknya menjalankan ibadah sunnah sebagai penyempurna ibadah wajib.
Sebagai pemahaman lebih dalam, berikut puasa sunnah Ayyamul, lengkap dengan niat dan keutamaannya.

Niat Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

014 febrianti diah kusumaningrumshutterstock

Membaca niat puasa sunnah Ayyamul Bidh bisa dipanjatkan pada malam hari menjelang tidur. Atau saat sahur, dengan mengucapkan dalam hati atau melafalkannya. Baik dalam bahasa Arab atau Indonesia, sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

“Nawaitu shouma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya: “Saya niat berpuasa besok pada ayyamul bidh sunah karena Allah Ta’ala.”

Apabila Anda merasa lupa membaca niat, bisa di pagi harinya. Sedangkan jika niat diucapkan pada saat sudah terbitnya fajar, bacaannya sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu sauma ayyaami bidh sunnatan lillahi ta’ala.”

Artinya: “Saya berniat puasa ayyamul bidh, sunah karena Allah ta’ala.”

Waktu Puasa Sungguh Ayyamul Bidh

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa puasa sunnah Ayyamul Bidh dikerjakan pada pertengahan bulan. Jadwal bulan ini, dilaksanakan pada 25, 26, dan 27 Februari 2021, yakni hari Kamis hingga Sabtu besok.

Pertengahan bulan yang dimaksud di sini, bisa ditunaikan sejak tanggal 13, 14, 15, dan 16. Cukup ambil 3 hari.

ilustrasi puasaIlustrasi Puasa ©Shutterstock.com

Ibnu Milhan Al Qoisiy dari ayahnya ia berkata, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dikutip dari kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, sementara itu menurut pendapat Malikiah, sunnah berpuasa 3 hari setiap bulan dan makruh mengkhususkan hari-hari (13, 14, 15) bidh. Supaya umat Islam tak menganggapnya sebagai suatu kewajiban, yang diambil dari kebiasaan Rasulullah.

Keutamaan Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

Dilansir dari NU online, ada keutamaan luar biasa yang akan diperoleh umat Islam yang menjalankan puasa sunnah Ayyamul Bidh. Berikut keutamaannya:

1. Bagaikan Puasa Penuh Satu Tahun

Apabila seorang hamba mampu istiqomah setiap bulannya. Disebutkan kelak menerima sepuluh kali lipat di setiap kebaikan atau seperti puasa satu tahun penuh.

“Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang Kau lakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh,” (HR Bukhari-Muslim).

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun. ” (HR. Bukhari no. 1979)

2. Wasiat dari Nabi Muhammad SAW

Mengamalkan puasa sunnah ayyamul bidh, menjadi salah satu pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum wafat.

Dari Abu Hurairah r.a., berkata: “Kekasihku (Rasulullah) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: (1) mengerjakan puasa selama tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan salat Dhuha, (3) mengerjakan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari).

3. Berkah Mengikuti Kebiasaan Nabi SAW

Salah satu keistimewaan demi memperoleh kasih dan sayang Allah, bisa melalui menjalankan segala kebiasaan baik Rasul. Ibadah puasa tiga hari di setiap bulannya ini termasuk kebiasaan Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

4. Pintu Surga Ar Rayyan Bagi yang Rajin Puasa

Sebagian tokoh muslim menghubungkan keutamaan puasa sunnah ayyamul bidh, dengan pahala yang diperoleh hamba yang rajin menjaga kebiasaan puasa.

Dari 8 pintu surga, terdapat pintu bernama Ar-Rayyan, diperuntukkan bagi seorang muslim yang rajin puasa selama hidupnya.

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya. ” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Asal Mula Dikenal Sebagai Puasa Putih

ilustrasi puasa©2013 Merdeka.com/Shutterstock/JOAT

Masih dari lansiran yang sama, menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Umdatul Qari’Syarhu Shahihil Bukhari, dijelaskan sebab dinamai ayyamul bidh terkait kisah Nabi Adam AS saat turun ke muka bumi.

Riwayat Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Adam AS turun, seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari hingga menjadi hitam atau gosong.

Selanjutnya Allah SWT memberikan wahyu untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15). Usai menjalankan hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih.

Kemudian puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya jadi putih.

ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ

” Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarknya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih.”

Sejarah Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

ilustrasi puasa©Shutterstock/JOAT

Sementara pendapat yang lain mengatakan, awal mula dinamai ayyamul bidh atau puasa putih. Sebab malam-malam tersebut terang benderang.

Malam disinari rembulan dan selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam hingga terbit kembali. Oleh karena itu, selama tiga hari di malam dan siangnya nampak terang.

“Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang),” dikutip dari Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi, ‘Umdatul Qari’ Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80.

Berita terkait: