Puasa Bentengi Diri dari Hasutan dan Adu Domba

Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) Syarikat Islam Indonesia (SII) KH Muflich Chalif Ibrahim mengatakan, puasa membentengi diri dari hasutan dan adu domba karena tujuan berpuasa adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Jadi itu secara otomatis menjadi benteng bagi diri manusia itu. Kalau dia merasa dirinya sebagai orang yang bertaqwa maka selama 24 jam dia merasa diawasi oleh Allah, baik ucapannya, perbuatannya, semuanya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (22/4/2021).

Untuk itu, dengan berpuasa insyaallah akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti menyebarkan hoax, memprovokasi, adu domba dan sebagainya.

BACA JUGA

Wapres Ma’ruf Amin Sampaikan Tips Puasa di Tengah Pandemi

”Puasa adalah instrumen untuk membentengi manusia itu. Karena Rasul Muhammad SAW sudah jelas mengatakan shaum junnah, yakni perisai, benteng pelindung, puasa dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan agar dijauhkan dari api neraka. Jadi pengawasannya itu melekat dengan melakukan puasa itu,” jelas Muflich.

Peduli
Selain itu, pria kelahiran Jakarta, 8 November 1970 itu juga menjelaskan, Islam itu sebagai kekuatan spiritualitas menekankan untuk senantiasa peduli dan memihak terhadap yang lemah.

Oleh karena itu, relasi puasa juga terkait dengan misalnya zakat yang harus dibayarkan sebelum puasa usai, imbauan kesediaan untuk membantu, memperbanyak infaq, hibah, distribusi kekayaan dari kaya ke miskin.

BACA JUGA

PBNU Minta Polisi Usut Juga Penceramah Islam Jelekkan Agama Lain

“Yang mana semua itu percepatannya demi keadilan sosial itu. Jadi substansi puasa itu kalau tidak dibarengi dengan komitmen sosial, tentunya puasa itu hampir tidak bermakna,” katanya.

“Dalam memaknai puasa ini, kita mesti instropeksi diri dengan memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan membersihkannya,” tambahnya.

Ia mengatakan, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, janganlah puasa ini menjadi penahan lapar dan haus saja yang pada akhirnya tidak tercapai tujuan dari puasa itu.

“Kalau selama puasa itu dia tetap melakukan hal-hal yang diharamkan dan dilarang oleh Allah, seperti mengadu domba, ghibah, menyebar fitnah tentu akan tidak bermakna puasanya,” terangnya.

Berita terkait: