Produksi Kompos, Upaya TPST Bantargebang Pertahankan Lahan

Sampah yang dibuang di Tempat Pengolahan Sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi mencapai 7.700 ton per hari.

Ribuan ton sampah tersebut dikelola Dinas Lingkungan Hidup (LH) Pemprov DKI Jakarta menjadi energi listrik serta menjadi pupuk kompos. Produksi pupuk kompos di TPST Bantargebang mencapai 1.500-1.600 kilogram per hari.

“Dalam satu hari, kita bisa menghasilkan pupuk kompos sekitar 40 troli. Katakan, satu troli seberat 40 kilogram. Total, mencapai 1.600 kilogram pupuk kompos siap pakai,” ujar ketua regu produksi pupuk kompos TPST Bantargebang, Dede Iyas, Senin (27/7/2020).

Ribuan ton kompos ini ditampung di bagian produksi, sebelum dipasarkan ke sentral-sentral toko pertanian.

Pembuatan pupuk kompos ini merupakan upaya Dinas LH DKI untuk memperpanjang umur lahan TPST Bantargebang, yang kian hari makin menyempit.

Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, daya tampung TPST Bantargebang hanya mampu bertahan hingga 2021, dengan kapasitas pembuangan sampah 7.700 ton per hari.

Organik
Dede menambahkan, sampah organik yang berasal dari pasar induk DKI Jakarta langsung dibawa ke bagian produksi kompos TPST Bantargebang. Sampah tersebut ditumpuk dan dijemur selama minimal 3 bulan. Setelah menjadi kering dan tak berbau, pengolahan menjadi pupuk organik dapat dilakukan.

“Sampah organik yang sudah kering dan tidak berbau, kemudian dipilah, dipisahkan dengan sampah plastik,” ujarnya.

Terdapat mesin penyaring antara sampah plastik dengan sampah organik yang sudah mengering. Pekerja di bagian produksi kompos kemudian mengangkut sampah organik yang telah terpisah dari sampah plastik. Selanjutnya, sampah organik ini siap didistribusikan ke masyarakat.

Berita terkait: