Polisi Tangkap Penjual Pistol Milik Pengemudi Fortuner

Polisi menangkap penjual senjata airgun dan airsoft gun milik tersangka Muhammad Farid Andika alias MFA, pengemudi Fortuner yang mengacungkan pistol seusai menyenggol pengendara sepeda motor, di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, MFA telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan dan kepemilikan senjata api. Ia sudah ditahan. Polisi kemudian melakukan pengembangan dari mana asal pistol yang dimilikinya, dan menangkap satu orang tersangka.

“Kemarin sudah kita lakukan penggeledahan, hasil pengembangan satu orang kita tetapkan sebagai tersangka yaitu, inisial AM alais S. Ini pengembangan dari saudara MFA bahwa dia membeli dari AM alias S,” ujar Yusri, Rabu (7/4/2021).

BACA JUGA

Polisi Telusuri Asal 2 Pistol Milik Pengemudi Fortuner

Dikatakan Yusri, MFA membeli secara langsung kedua senjata airgun dan airsoft gun dari tersangka AM, bukan melalui online. “Beli langsung, ketemu langsung. Masih kami dalami lagi (apakah saling kenal),” ungkapnya.

Dibekukan
Menyoal dari mana asal kartu anggota Perbakin milik MFA, Yusri menuturkan, kartu itu berasal dari klub menembak yang sudah dibekukan.

“Kartunya tak sah karena Perbakin sudah kita lakukan pemeriksaan, dan tidak mengakui bahwa itu dari Perbakin. Itu dikeluarkan oleh salah satu (klub) yang sudah dibekukan,” katanya.

BACA JUGA

Koboi Pengemudi Fortuner Mundur dari CEO Restock.id

Yusri menyampaikan, tersangka AM dijerat Pasal 1 Ayat (1) UU 12 Tahun 1951 yang berbunyi, “Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun.”

“Ya dikenakan Undang-undang Darurat Nomor 12 tahun 1951,” tandasnya.

Undang-undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang Mengubah Ordonnantietijdelijke Bijzondere Strafbepalingen (Stbl. 1948 Nomor 17) dan UU Republik Indonesia Dahulu Nomor 8 Tahun 1948 (UU Drt. No. 12/1951).

Berita terkait: