Polisi Sidik Kampung Kurma Grup yang Diduga Bodong

Hati-hati dengan modus inevstasi kavling di bidang perkebunan dengan kedok agama dan bebas riba. Bareskrim Polri saat ini tengah menangani kasus Kampung Kurma Group yang diduga bodong.

“Bulan September yang lalu, proses ini sudah dinaikkan ke penyidikan, kita sedang berproses, penyidik telah melakukan pemeriksaan saksi-saksi kurang lebih 35 orang,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Kamis (26/11/2020).

Menurut Awi kasus tersebut bermula dari informasi Satgas Waspada Investasi (SWI) pada awal 2020.

Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui seseorang mendirikan enam perusahaan Kampung Kurma Group yang tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang.

BACA JUGA

Masyarakat Diminta Waspadai Investasi Ilegal dengan Modus Perkebunan

Penjualan lahan kavling meraup lebih dari Rp 333 miliar. Dimana ada 4.208 kavling yang dijual dengan bonus sebuah pohon kurma untuk masing-masing kavling.

Penjual juga menjanjikan akan mendirikan pesantren, masjid, arena olahraga, kolam renang, dan fasilitas lainnya. Akan tetapi, faktanya tak seperti yang dijanjikan. Janji tinggal janji.

“Fakta yang diketemukan oleh penyelidik waktu itu, ternyata sebagian besar dari transaksi 2.000 orang lebih korban itu, tidak terdapat fisik dan bonus yang telah dijanjikan,” sambung Awi.

Pembeli juga tak bisa langsung mendapatkan kaveling yang dijanjikan karena terkendala dalam hal proses peralihan akta jual beli (AJB) antara pemilik lahan dengan konsumen karena legalitas Kampung Kurma Grup bermasalah.

“Penyidik sedang memilah-milah data transaksi perusahaan tersebut. (Korban) ada yang masih DP, ada juga yang bayar full , ini lagi dipisah-pisah karena memang ini datanya parah, amburadul,” sambung Awi.

Sebab mereka yang menjual sendiri, yang mengelola sendiri, yang mendatakan sendiri, dan yang pakai uangnya sendiri. Hingga kini belum ada tersangka yang ditetapkan.

“Penyidik juga menelusuri aliran dana hasil penjualan kavling serta melakukan pelacakan aset,” tambah Awi.

Untuk diketahui Kampung Kurma mulai dikenal di 2018. Mereka menawarkan paket kavling tanah seluas 400 meter-500 meter untuk ditanami pohon kurma, dan termasuk investasi kavling kolam lele dengan 10.000 bibit. Harga kavling variatif mulai dari Rp 99 juta per kavling.

Kecurigaan investor terkait investasi ini bermula saat sejumlah nasabah yang datang ke PT Kampung Kurma di Bogor untuk menagih janji mengenai status lahan kavling dan pengembalian dana. Sayangnya, ratusan pembeli ini tidak dapat menemui Direktur Utama PT Kampung Kurma berinisial AH. Kasus pun mencuat dan kini jadi urusan polisi.

Berita terkait: