Polisi Kesulitan Telusuri Identitas 305 Anak Korban Pelecehan

Penyidik Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya, terus menelusuri identitas 305 anak korban pelecehan tersangka Francois Abello Camille alias FAC alias Frans alias Mister (65).

Penyidik terkendala usia yang masih di bawah umur dalam mengidentifikasi korban sehingga memerlukan waktu. Hingga saat ini, baru 19 korban yang teridentifikasi.

Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Piter Yonattama mengatakan, awalnya pada saat penangkapan penyidik mengamankan dua orang korban. Kemudian, penyidik meminta bantuan dua korban untuk menelusuri sekitar 305 korban -wajah berbeda- yang terdokumentasi dalam rekaman video di laptop tersangka. Jumlah korban terindentifikasi berkembang ketika itu menjadi 17 orang.

“Kemudian ada percobaan bunuh diri, tersangka dirawat di rumah sakit. Namun, terus kami lakukan pengembangan, bertambah dua (total korban teridentifikasi menjadi 19 orang),” ujar Piter, Kamis (16/7/2020).

Dikatakan Piter, penyidik terkendala usia korban yang masih di bawah umur dalam proses identifikasi, sehingga memerlukan waktu.

“Pertama foto-foto di dalam (laptop) itu kan anak di bawah umur, karena di bawah umur 13, ada yang 16, 17 tahun kan mereka belum punya KTP. Dari teknologi face recognition pasti tidak dapat. Dari foto-foto dan video itu kami coba perlihatkan kepada korban, korban ada yang pelan-pelan mengamati, kemudian kenal. Nah dari yang kenal itu kami baru turun ke lapangan untuk mengindentifikasi. Itu kan butuh waktu,” ungkapnya.

Piter menyampaikan, korban sementara ini dikembalikan kepada orang tuanya. Namun, apabila penyidik membutuhkan bantuan bisa berkomunikasi atau datang ke rumahnya. “Pada saat kami datang, dia lagi beraktivitas sama keluarganya atau segala macam. Jadi kami butuh waktu. Apalagi anaknya trauma. Jadi kami pelan-pelan, halus,” katanya.

Menurutnya, secara yuridis penyidikan kasus pelecehan berhenti karena tersangkanya meninggal dunia. Namun, penyidik masih menelusuri apakah ada kemungkinan video itu dijualbelikan.

“Sejak awal ketika dia memang percobaan bunuh diri, kita tidak kehilangan fokus karena insting naluri kami melihat ini sebenarnya kejahatan serius. Memang ada foto dokumentasi, video segala macam, dengan modus operandi dan ciri khas karakteristik sepertinya ada pasar ini. Sepertinya ya, masih dugaan, belum ada bukti memang. Nah, makanya laptopnya itu sudah kami bawa, surat sudah masuk ke Badan Sandi Negara. Kami berkoordinasi untuk mencoba membongkar itu. Karena kan laptopnya itu dienkripsi” jelasnya.

Tersangka Lain
Menyoal apakah ada kemungkinan tersangka lain dalam kasus ini, dia mengatakan, penyidik masih menyelidiki ke arah sana. “Kalau misalnya ternyata pada saat dia melakukan ternyata dia tidak sendiri, kemudian dia berinteraksi. Interaksinya mungkin dibuktikan dengan misalnya ada foto atau video lagi di dalam laptop, atau misalnya begitu kami angkat laptop atau handphonenya ada berinterkasi di Whatsapp, ada yang order, kemudian ada yang menerima, ada yang mentransfer, nah itu berarti kan ada tersangka lagi,” katanya.

Namun, ujarnya, sampai saat ini, masih belum muncul tersangka lain.

Piter menuturkan, penyidik Ditreskrimus Polda Metro Jaya juga berkoordinasi dengan Interpol apakah tersangka punya rekam jejak kriminal. “Kita koordinasi dengan interpol, untuk mengetahui sebenarnya si tersangka ini punya jejak kriminal yang serupa tidak sih,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih menunggu proses visum dan autopsi jenasah tersangka yang rencananya dibawa ke Prancis.

“Update terakhirnya itu sekarang kami berkepentingan untuk visum dan autopsi ya. Forensik luar dan dalam. Karena jenazah ini kan mau dibawa ke Prancis nanti sama keluarganya, Kedubes. Artinya kami ingin optimal dan final, dalam arti untuk penyebab kematiannya. Supaya menyampaikannya ke kedutaan besar juga jelas. Maksimal dua minggu ke depan itu baru ada hasilnya, setelah itu kita koordinasi dengan pihak Kedubes bagaimana tata cara dan mekanismenya pengambilan jenazah dan pengirimannya,” tandasnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap dan menahan tersangka Francois Abello Camille alias FAC alias Frans alias Mister (65), lantaran diduga mengeksploitasi dan melakukan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, di sejumlah hotel, di bilangan Jakarta Barat. Tidak tanggung-tanggung, pria tua asal negara Prancis itu diduga melecehkan 305 anak dengan modus hendak dijadikan foto model.

Kemudian, pada Kamis (9/7), petugas jaga menemukan Frans dalam kondisi lemas dengan kondisi leher telilit kabel di dalam ruang tahanannya. Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, yang bersangkutan akhirnya meninggal dunia, di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, sekitar pukul 20.00 WIB, Minggu (12/7) malam.

Diagnosa dokter, dia tewas karena tulang belakang leher retak yang menyebabkan sumsumnya kena jerat, sehingga suplai oksigen ke otak dan organ-organ penting berkurang.

Berita terkait: