Polisi Dalami Unsur Perencanaan Kasus Penculikan Anak di Ulujami

Polisi masih mendalami apakah ada unsur perencanaan atau tidak dalam kasus penculikan terhadap anak berinisial PR (3), di kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

“Nanti akan kita dalami lagi. Yang pasti alasannya adalah kemarin yang bersangkutan (tersangka P dan N) ke rumah neneknya. Kedua tersangka ini anak (P) dan ibu (N) bermain ke rumah neneknya kebetulan di daerah Ulujami. Kemudian karena memang pernah berkunjung ke sana, melihat ada anak. Apakah memang sudah direncanakan atau spontanitas, masih kita dalami. Yang pasti motif sementara ini hasil pemeriksaan sementara ini adalah ingin memiliki sebagai anak dan saudara,” ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Budi Sartono, Rabu (29/7/2020).

Menyoal apakah korban diiming-imingi sesuatu agar mau mengikuti ajakan tersangka P, Budi mengatakan, tidak ada. Pelaku hanya mengajak korban untuk ikut dengannya.

“Tidak diimingi apa-apa. Hanya memang ada ajakan saja yuk ikut. Nah mungkin apakah sudah ketemu sebelumnya karena memang yang bersangkutan untuk tersangka pernah tinggal di sana, jadi mungkin pernah ketemu korban sehingga kenal. ‘Yuk ikut’, itu bahasa dia,” ungkapnya.

Budi menyampaikan, penyidik belum bisa menyimpulkan apakah ada pemaksaan pada saat kejadian. Memang ada luka gores di tangan, tapi belum dipastikan apa itu luka akibat paksaan atau bukan. Namun, sementara ini tidak ada tanda kekerasan fisik di tubuh korban.

“Kita belum tahu (apakah ada paksaan). Karena kan tujuannya untuk menguasai. Secara prosedur setelah kita bawa ke sini, anaknya sudah kita visum memang ada goresan di tangan, tapi goresan itu karena apa kita belum tahu. Masih kita dalami. Apa memang karena jatuh sendiri kita tak tahu ya. Sementara kekerasan fisik terhadap anak tidak ada. Untuk menyiksa tidak ada. Karena tujuannya ingin menguasai, memiliki jadi saudara dan anak,” katanya.

Ihwal apakah pelaku P memiliki keterbelakangan mental, Budi menuturkan, penyidik akan mendalami lagi. “Nanti kita akan dalami lagi. Kita akan panggil psikolog, kita semua akan jalankan semua pemeriksaan. Kita sedang dalami saksi-saksi lain seperti psikolog, psikiater. Nanti kita dalami. Saya tak bisa jawab karena bukan kompetensi saya,” jelasnya.

Budi menegaskan, hasil pemeriksaan kedua tersangka sudah memenuhi unsur melakukan tindak pidana penculikan, dan dikenakan Pasal 328 KUHP juncto Pasal 332 KUHP dan Pasal 76 F juncto Pasal 83 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2020 terkait Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Peran serta dibagi-bagi semua, tapi pasalnya sama. Nanti dilihat peran sertanya seperti apa, turut membantu kah? Apa memang dia pelaku utamanya. Yang pasti dua-duanya memenuhi unsur persyaratan kasus penculikan,” tandasnya.

Berita terkait: