Polda Metro Jaya Gerebek Klinik Kecantikan Ilegal di Ciracas

Sub Direktorat Sumber Daya Alam dan Lingkungan (Subdit Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menggerebek klinik kecantikan ilegal Zevmine Pure Beauty Skin Care & Medical Spa di Ciracas, Jakarta Timur.

Dalam praktiknya, klinik tersebut tidak memiliki perizinan dan dokter kecantikan di klinik diduga juga tak berijazah. Hal tersebut diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya , Kombes Pol Yusri Yunus, Selasa (23/2/2021).

“Dari hasil penyelidikan kemudian undercover kita lakukan di sana berhasil kita amankan satu tersangka inisialnya adalah SW alias dokter Y,” kata Yusri.

Klinik kecantikan ilegal tersebut berada di Ruko Zam-Zam Jalan Baru TB Simatupang, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Klinik tersebut digerebek petugas Polda Metro Jaya, Minggu (14/2/2021), sekitar pukul 19.00 WIB.

SW ditetapkan sebagai tersangka atas perannya sebagai pemilik klinik dan melakukan praktik dokter kecantikan tanpa memiliki kualifikasi sebagai dokter dan mengantongi izin untuk membuka klinik dari Dinas Kesehatan DKi Jakarta.

Saat diperiksa oleh petugas, tersangka SW mengaku telah melakoni praktik ilegal tersebut selama kurang lebih empat tahun.

Penyelidikan terhadap latar belakang pelaku juga menemukan bahwa tersangka memang merupakan seorang tenaga kesehatan. Tersangka SW diketahui pernah bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit.

“Dia adalah perawat sebenarnya, bekerja di salah satu rumah sakit sebagai perawat kecantikan, kemudian di situ dia belajar, bagaimana untuk melakukan praktik ini termasuk obat-obat apa yang dibutuhkan, dari hasil dia bekerja dulu kemudian dia praktikkan,” katanya.

BACA JUGA

Polda Metro Bongkar Praktik Klinik Stem Cell Ilegal

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Krisis Kesehatan, Dinkes DKI Jakarta, Sulung Mulia Putra mengatakan, praktik kecantikan yang dilakukan oleh tersangka SW merupakan tindakan yang hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter spesialis.

“Tindakan yang dilakukan ini betul merupakan tindakan media invasif, jadi ini tidak boleh dilakukan bahkan oleh dokter yang tidak terlatih,” ujar Sulung.

Dia menambahkan, dampak kesehatan tindakan medis invasif yang dilakukan tanpa prosedur yang tepat dan oleh petugas yang tidak memiliki kualifikasi bisa menimbulkan dampak serius bagi pasiennya.

“Kita sudah cek juga laporannya bahwa (dampak) yang ditimbulkan akibat dari tindakan ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Akibat perbuatannya, tersangka SW kini ditahan oleh penyidik Polda Metro Jaya dan dijerat dengan Pasal 77 dan atau Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta.

Dan dari hasil pengungkapan kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa beragam jenis obat-obatan ilegal yang digunakan tersangka dalam aksinya. Selain itu polisi juga berhasil mengamankan berbagai perangkat kedokteran yang kerap digunakan pelaku dalam menjalankan aksinya.

Berita terkait: