Polda Jateng Bekuk Komplotan Rampok Gasak Harta Pengusaha Rp 2,2 Miliar

Kepolisian Daerah Jawa Tengah membekuk komplotan perampok asal Jawa Barat yang menggasak harta seorang pengusaha di Kudus, Jateng.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Iskandar Fitriana Sutrisna, mengatakan keseluruhan harta yang berhasil digasak oleh para perampok itu berjumlah Rp2,2 miliar.

“Korban ini memang pengusaha. Asetnya banyak, ada beberapa malah dia lupa jumlah aset yang diambil. Kerugian korban mencapai Rp 2,2 miliar,” kata Iskandar, saat gelar perkara Mapolda Jateng, Rabu (22/7/2020).

Korban bernama Liem Cahyo Wijaya. Peristiwa perampokan itu terjadi pada 9 Juli 2020. Polisi segera mengejar para perampok itu, dan berhasil ditangkap pada 20 Juli 2020 di wilayah Kuningan, Sumedang, dan Bandung, Jawa Barat.

“Dari penyidikan sementara, salah satu dari para tersangka ini seorang residivis,” ujar Iskandar.

Ada delapan orang yang melakukan aksi perampokan di kediaman Liem Cahyo. Namun, Polda Jateng baru menangkap tujuh orang perampok, satu orang lainnya masih dalam pengejaran. Para perampok yang ditangkap, yakni Anton Hermawan, Tatang Supendi, Dian Khaeruddin, Suherman, Dian Kuswara, Dudin Saadudin, dan Ganja Haru.

Mereka berhasil menggasak uang senilai Rp 1,6 miliar, 156 jenis perhiasan seberat 970 gram, dan mata uang Dolar Amerika senilai Rp 700 juta.

“Sebelum melakukan perampokan mereka survei rumah korban selama lima hari. Jadi ini sudah cukup profesional,” ujar Iskandar.

Para tersangka dijerat Pasal 365 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

Menurut Iskandar, aksi perampokan terhadap Liem Cahyo tergolong beringas. “Mereka melakukan pencurian pada malam hari. Masuk rumah, lampu dimatikan. Orang-orang di rumah disekap dengan lakban. Mulut dilakban dan mata dilakban. Kamar korban didobrak,” jelas Iskandar.

Selain menggasak uang tunai dan sejumlah perhiasan, kata Iskandar, para perampok ini juga mengambil 77 sertifikat tanah milih Liem Cahyo. Uniknya, Liem Cahyo sendiri tidak tahu persis berapa jumlah sertifikat tanah yang diambil para perampok tersebut.

“Korban ini asetnya banyak. Ada beberapa malah dia lupa jumlah aset yang diambil. Dari kroscek ke pelaku, jumlahnya malah melebihi dari yang dilaporkan korban. Pengakuan pelaku 77 sertifikat. Tapi, menurut korban serifikat kurang 6 berkas. Nanti akan kita pastikan apakah lupa apakah benar ada 77,” jelas Iskandar. 

Berita terkait: