PJJ Bisa Dibuat Menyenangkan agar Siswa Tak Jenuh

Sudah delapan bulan lamanya sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) akibat pandemi Covid-19 .

Tidak jarang siswa merasa jenuh karena rindu suasana sekolah dan bermain dengan teman di kelas. PJJ juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru maupun orang tua karena belum terbiasa dengan metode belajar ini.

Menurut psikolog sekaligus pemilik sekolah Taman Kreativitas Anak Indonesia (TKAI) Rose Mini Agoes Salim, kegiatan PJJ sebenarnya bisa dibuat menyenangkan bagi anak.

“Belajar itu harus menyenangkan untuk anak. (Guru) bisa merampingkan kurikulum agar siswa tidak bosan. Pemerintah bahkan juga sudah membuat kurikulum khusus situasi darurat,” kata Rose dalam acara “People & Inspiration” yang disiarkan langsung oleh BeritaSatu TV , Sabtu (21/11/2020).

Ia menambahkan, guru-guru juga bisa melibatkan permainan-permainan di sela-sela pelajaran.

“Misalnya, di pertengahan kelas, kami mengajak anak-anak untuk mengambil gelas di dapur. Ice-breaking seperti ini penting karena anak tidak bisa dipaksakan konsentrasi selama berjam-jam di depan layar. Saya selalu meminta guru di sekolah agar kreatif sehingga mereka tidak jenuh,” kata Rose.

Sementara itu, tidak kalah penting juga bagi guru untuk mengasah keterampilan mengajar mereka. Setiap dua minggu, guru di TKAI menggelar bedah buku atau penelitian jurnal yang sekiranya bisa membantu mereka dalam menyelenggarakan PJJ. Tak hanya itu, guru juga memanfaatkan platform dinas pendidikan (diknas) setempat untuk mendapatkan informasi-informasi tentang PJJ.

“Ilmu di luar sana terus berkembang. Jika tidak belajar dan tidak up-to-date dengan informasi, pendidik akan ketinggalan kereta,” kata Rose.

Guru-guru, lanjut Rose, juga harus mendukung orang tua dalam PJJ. Di TKAI, guru-guru memberikan modul yang bisa digunakan oleh orang tua saat mendampingi anaknya belajar. Pihak sekolah juga menggelar webinar bagi orang tua.

Orang tua, lanjut Rose, juga diharapkan untuk tidak mengubah kebiasaan-kebiasan persiapan sekolah anak. Misalnya, seperti bangun tidur di pagi hari. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika sekolah kembali menggelar kelas tatap muka.

“Anak-anak harus tetap bangun pagi. Jangan ubah jam di mana mereka harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Jadi ketika kita sudah kembali ke sekolah, mereka lebih siap,” kata Rose.

Ia menuturkan banyak orang tua sering kali cemas dengan adanya kebijakan PJJ, sedangkan kecemasan orang tua sebenarnya ditularkan kepada anak. Sementara itu, orang tua perlu mengajarkan anak mereka agar berpikir positif bahwa suatu saat mereka akan kembali ke sekolah seperti semula. Untuk sementara waktu, anak-anak harus diajak untuk menikmati adanya PJJ. Apalagi kegiatan PJJ bisa dibuat menyenangkan.

“Beberapa waktu lalu, kami (di TKAI) menggelar kegiatan berkemah secara virtual. Anak-anak diminta untuk membangun tenda dari sprei. Mereka diminta untuk membangun suasana seperti di hutan dan bisa menggunakan pot bunga di rumah,” kata Rose.

“Itu sesuatu yang mereka belum pernah lakukan tetapi sekarang mereka bisa lakukan,” imbuhnya.

Berita terkait: