Pilkada Medan, Bobby Tegaskan Legitimasi Pemimpin Diukur dari Partisipasi Pemilih

Pasangan Calon Wali Kota dan Wali Kota Medan, Bobby Nasution – Aulia Rachman menyatakan selalu turun melakukan blusukan hingga ke gang sempit di tengah permukiman masyarakat, selain bertujuan menyerap aspirasi masyarakat, juga sekaligus ingin meningkatkan partisipasi pemilih dalam pemilihan kepala daerah tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Bobby mengungkapkan hal itu mengomentari kata sambutan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan Agussyah Damanik tentang pentingnya legitimasi publik dalam pilkada, saat membuka debat II pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Medan, yang disiarkan secara langsung oleh TVRI di Hotel Grand Mercure Medan, Sabtu (21/11/2020) malam.

Bobby yang juga menantu Presiden Joko Widodo ini mengatakan, dirinya bersama pasangannya Aulia terus-menerus turun ke tengah masyarakat, agar dapat memahami kebutuhan masyarakat. Dalam dialog dengan masyarakat yang ditemuinya selama blusukan, Bobby – Aulia menyatakan memiliki tekad kuat membangun dan memajukan Kota Medan.

“Saya tidak mau menjadi wali kota seperti hantu, yang mengambang dan seakan berada di awang – awang. Ke atas tidak nyambung, ke bawah tidak di dengar,” ujar Bobby melalui keterangan tertulisnya, Minggu (22/11/2020).

BACA JUGA

Ini Alasan Golkar Ingin Menangkan Bobby-Aulia

Bobby menyebutkan, legitimasi pemimpin tentang produk pilkada langsung dapat diukur dari tingkat partisipasi pemilih. Fakta menunjukkan, Pilkada Medan 2015, yang menghasilkan HT Dzulmi Eldin – Akhyar Nasution pada tahun 2015 lalu, partisipasi masyarakat dalam memilih hanya diikuti sekitar 25,38% dari 1,99 juta pemilih yang terdaftar.

“Dalam kondisi begitu, legitimasi sangat rendah. Sulit kita mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Cakap kita tidak didengar. Jika komunikasi ke atasan tak jalan, maka jadilah wali kota hantu,” jelasnya.

Selama melakukan blusukan, Bobby mengaku sering mendapatkan keluhan warga atas kepemimpinan terdahulu, yang dianggap tidak mampu berkomunikasi dengan pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota penyanggah. Sehingga, ibukota Provinsi Sumut ini menjadi tertinggal dari kota-kota di provinsi lain.

Sebelumnya, Ketua KPU Kota Medan, Agussyah Damanik menyampaikan, tidak mudah sebutkan Pilkada Medan 2015, menghasilkan produk yang tidak kuat atas legitimasi publiknya. Namun, Agussyah berharap kepada kontestan Pilkada 2020 ini, mampu meningkatkan partisipasi pemilih dengan penjabaran program yang lugas dalam debat.

Diketahui, daftar pemilih tetap (DPT) di Pilkada Medan kali ini adalah 1,6 juta. Banyak pihak yang meragukan partisipasi masyarakat bisa meningkat secara signifikan. Soalnya, pandemi Covid-19 dikhawatirkan bisa semakin menurunkan partisipasi pemilih pada hari Hz saat proses pemungutan suara berlangsung.

Berita terkait: