Perubahan Perilaku Kunci Utama Pencegahan Stunting

Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation , Widodo Suhartoyo, mengatakan, 70 persen penyebab stunting dikarenakan faktor di luar kesehatan dan gizi. Faktor tersebut, anatara lain, sanitasi, lingkungan, dan perilaku.

“Secara spesifik, 30 persen permasalahan stunting disebabkan oleh perilaku yang salah. Karenanya, perubahan perilaku menjadi hal yang sangat penting dalam upaya pencegahan stunting ,” kata Widodo di sela e-workshop bersama media, di Jakarta, Rabu (29/7/2020).

Widodo memaparkan, perilaku masyarakat yang bisa memicu terjadinya stunting misalnya perilaku yang kurang baik dalam pola hidup, pola makan, dan pola pengasuhan anak. “Orang tua yang pendek tidak otomatis akan memiliki anak pendek. Anak bisa menjadi pendek karena orang tua menerapkan pola asuh dan pola makan seperti yang diterimanya dulu. Lingkaran ini harus diputus,” tegasnya.

Menurut Widodo, Tanoto Foundation sebagai lembaga filantropi independen yang bergerak di bidang pendidikan, memiliki misi agar semua anak mampu mencapai potensi belajar yang maksimal, sesuai tahap perkembangannya, dan siap sekolah. Program ini meliputi pengurangan stunting , peningkatan kualitas pengasuhan anak usia 0-3 tahun, serta peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini.

“Semua pelayanan ini disalurkan melalui lingkungan belajar di rumah, pusat layanan anak usia dini, misalnya Posyandu dan PAUD, serta komunitas desa dan pemerintah desa,” tandas Widodo.

Sejauh ini, lanjut Widodo, Tanoto Foundation memiliki program intervensi stunting di Riau (Rokan Hulu), Sumatera Barat (Pasaman dan Pasaman Barat), Banten (Pandeglang), Jawa Barat (Garut), Kalimantan Selatan (Hulu Sungai Utara), Kalimantan Timur (Kutai Kartanegara), NTB (Lompok Utara dan Lombok Barat), NTT (Alor, Simot Tengah Selatan), Sulawesi Barat (Majene), dan Maluku (Seram Barat).

Widodo mengatakan, tidak semua wilayah menerima program yang sama. Misalnya, di 6 wilayah (Pasaman Barat, Garut, Hulu Sungai Utara, Majene, Seram Barat, dan Alor), Tanoto Foundation bekerja sama dengan Alive&Thrive untuk melakukan studi, lalu membuat semacam purwarupa atau prototype untuk melakukan perubahan perilaku di area-area tersebut.

“Misalnya di Hulu sungai Utara, daerah yang sangat kaya akan ikan. Namun anak-anak di sana tidak banyak makan ikan, karena ikan lebih banyak dijual keluar. Setelah diteliti, ikan biasanya hanya dibakar atau digoreng. Maka salah satu rekomendasinya, membuat resep masakan ikan sehingga anak-anak tidak bosan makan ikan,” tegas Widodo.

Berita terkait: