Perjuangan Klub-klub Melawan Badai

Tiga pekan lalu, Kepolisian Republik Indonesia tidak mengeluarkan izin keramaian untuk kembali bergulirnya kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia, Liga 1 dan 2 mulai 1 Oktober 2020. Alasannya, karena pandemi virus corona belum terkendali. Keputusan ini diambil untuk keselamatan semua pihak, seluruh pemangku kepentingan sepakbola mulai dari pemain, pelatih dan staf, hingga pendukung.

Keputusan itu pada saat bersamaan menjadi pukulan telak untuk semua klub. Ketika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) membuka peluang bergulir kembalinya kompetisi musim 2020, tanda-tanda kehidupan pun muncul. Sebab dengan kompetisi bergulir, roda perekonomian di sektor sepakbola bergulir kembali. Meskipun tidak akan optimal karena seluruh pertandingan tidak dihadiri penonton. Minimal klub mulai memiliki penghasilan terutama dari pihak sponsor.

Sejak pandemi Covid-19 menghantam pada Maret silam yang diikuti berhentinya kompetisi, pendapatan klub macet total. Tidak ada lagi pemasukan dari penjualan tiket dan sponsor. Sementara sepanjang pandemi yang sudah berlangsung tujuh bulan, pengeluaran jalan terus. Di luar stadion, roda ekonomi sektor usaha kecil juga tidak berjalan.

Semua klub merasakan kencangnya hempasan gelombang akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, mereka terus bertahan dengan seluruh tenaga yang tersisa agar tidak terhempas dan bertahan di tengah badai. Dalam situasi seperti ini mereka juga dituntut membentuk tim terbaik untuk merebut gelar juara sambil menjaga agar pemasukan klub tetap ada.

Persija Jakarta, misalnya, saat ini masih terus berusaha membentuk tim terbaik agar bisa bersaing pada lanjutan Liga 1 2020. Namun, mereka harus merancang ulang dari awal seiring datangnya pandemi. Itu salah satu cara untuk bisa bertahan. Presiden Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, harus memeras otak agar klub Ibu Kota bisa bertahan dan tetap berdiri tegak di tengah badai.

BACA JUGA

Klub Indonesia Siap Ikuti Kelanjutan Kompetisi

“Sebenarnya tidak ada masalah. Tidak ada satu kendala apabila pandemi ini tidak datang. Tetapi pandemi ini datang, semua seperti restart. Karena apa? Teknik konvesional ini tidak ada yang jalan. Orang A, B, C, D bisa ngomong, tetapi kami yang menjalankan di dalam, dengan segala kemampuan kami,” ucap Prapanca pada Youtube Persija Jakarta dan dikonfirmasi ulang pada Kamis (1/10/2020) lalu.

Ia mencontohkan, untuk sponsor, manajemen Persija harus melakukan negosiasi ulang. Sementara pendapatan dari tiket, semua hilang karena tidak adanya pertandingan yang digelar. “Padahal itu (tiket) 30% pendapatan kami. Yang semua orang harus tahu, 40-50% pendapatan kami itu dari sponsor, 30-40% tiket, sementara merchandise terbilang kecil sekali yakni hanya 15%,” jelasnya.

Oleh karena itu, kondisi pandemi begini membuat manajemen Macan Kemayoran, julukan Persija, terpaksa melakukan negosiasi ulang ke berbagai pihak. “Persen lainnya itu premium branding, yang di Indonesia belum terbiasa. Terbayang tidak, dengan skuat dream team yang kami bangun, tiba-tiba Covid, tiba-tiba semua harus turun. Apa yang harus kami pertimbangkan? Inilah yang kami lakukan, renegosiasi dengan standar federasi. Tentunya tidak asal-asalan. Kalau tidak, semua klub bangkrut hari ini. Kami berusaha bertahan,” ungkapnya.

Namun ketika ditanyakan besaran pengeluaran saat bertanding baik kandang maupun tandang serta pemasukan dan pengeluaran per bulan, Prapanca menolak menjawabnya dengan halus karena itu rahasia perusahaan. “Wah maaf ya, kalau untuk urusan itu menjadi rahasia perusahaan,” ujarnya singkat.

BACA JUGA

PSSI Siapkan Tiga Opsi Kelanjutan Liga 1

Sebelumnya, Direktur Olahraga Persija, Ferry Paulus menyatakan beberapa bulan terakhir saat pandemi, pihaknya memotong 75% gaji para pemain, ofisial dan staf pelatih, setelah isi Surat Keputusan (SK) PSSI. “Kalau mencermati SK PSSI yang terakhir, berarti gajinya tetap ikut SKEP48 terdahulu, yakni gaji maksimal 25%,” kata Ferry Paulus.

Dalam SK sebelumnya PSSI memang mengizinkan klub membayar maksimal gaji 25% dari total nilai kontrak sejak Maret hingga Juni karena kompetisi dihentikan dengan status keadaan kahar.

Persib
Tim elite Liga 1 lainnya yang juga rival abadi Persija Jakarta, Persib Bandung, mengambil langkah serupa. PT Persib Bandung Bermartabat, badan hukum yang mengelola klub profesional Persib Bandung, terpaksa melakukan efisiensi. Tim yang berusaha mendapatkan pemasukan dari tiket pertandingan ini terpaksa memangkas gaji pemain. “Kita mengikuti SKEP PSSI,” kata Direktur PT PBB, Teddy Tjahjono secara terpisah.

Dalam SKEP/53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi dalam keadaan biasa pada 27 Juni 2020 yang diterbitkan PSSI antara lain disebutkan, klub diperkenankan memotong gaji pemain dan pelatih hingga 50% dari nilai yang disepakati awal. Pemangkasan gaji itu juga dibarengi dengan komunikasi intens dengan para sponsor yang jumlahnya 14 perusahaan. “Kami jelaskan kepada mereka terkait situasi yang terjadi,” ujarnya lagi.

Para mitra itu berasal dari beragam sektor. Ada perusahaan makanan, perbankan, minuman, operator telekomunikasi, hingga industri apparel . Selain berkomunikasi, Teddy mengakui, pihaknya juga terus menerus mempublikasikan aktivitas Persib serta para pemainnya lewat berbagai platform digital. “Supaya tetap ada engagement dengan partner-partner kami,” terang dia.

BACA JUGA

Lanjutan Liga 1 Ditunda, Persita Liburkan Pemain Sepekan

PSMS Medan juga tidak kalah bekerja keras agar bisa bertahan di tengah pandemi. Namun cara mereka beda dengan Persija dan Persib yang jumlah sponsornya berjibun. Mereka mengandalkan dana kompensasi tambahan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menutupi pengeluaran klub sebagai yang utama. Mereka juga terus mencari cara lain agar bisa menutup argo pengeluaran yang terus berjalan, tanpa menyebut spesifik cara yang ditempuh.

“Dana subsidi itu belum bisa menutupi kerugian finansial, sehingga kita mencari langkah lain agar PSMS ini tetap bisa bertahan di tengah pandemi dan mengikuti Liga 1 dan 2, yang direncanakan November 2020,” ujar manajer PSMS Medan, Mulyadi Simatupang, Minggu (4/10/2020) silam.

Apa pun upaya setiap klub diharapkan membuahkan hasil, sehingga mereka tetap bisa berdiri tegak di tengah badai. Pada saat bersamaan, pandemi Covid-19 ini diharapkan segera mereda dan kepolisian bisa menerbitkan surat izin keramaian. Dengan demikian, sebagaimana diharapkan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, kompetisi sepakbola Indonesia bisa bergulir kembali bulan depan. Dengan begitu pula roda ekonomi di sektor sepakbola mulai pelan-pelan bergulir, sambil menunggu penonton diizinkan kembali ke stadion. Sebab hanya dengan kompetisi dan hadirnya penonton di stadion, klub-klub bisa keluar dari badai ini.

TAG:  Liga 1 dan 2 Sepakbola Indonesia

Berita terkait: