Peringati hari jadi, Istiqlal gencarkan munculnya ulama perempuan

“Tidak boleh pengelolaan menjadi over maskulin, tidak boleh over feminin. Keseimbangan maskulin dan feminin sangat kita perlukan,” katanya. Jakarta – Ulama terkemuka nasional KH Nasaruddin Umar mengatakan Masjid  Istiqlal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara akan mengarusutamakan bertumbuhnya ulama perempuan yang mengkaji Al Quran dan Hadits.

“Kita buka pengkaderan ulama perempuan. Mungkin ini pertama di dunia. Ulama perempuan akan mengkaji Al Quran dan Hadits dalam perspektif kesetaraan gender,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dalam sambutannya secara daring yang dipantau dari Jakarta, Senin.

Pada malam peringatan Milad Masjid Istiqlal tersebut, Nasaruddin mengatakan umat Islam saat ini menunggu semakin tumbuhnya kajian gender dari perspektif ulama perempuan melalui pendekatan Quran dan Hadits.

Baca juga: Wapres: Masjid jadi tempat pelestarian Islam “wasathiyah”

Saat ini, kata dia, kajian gender melalui pendekatan Islam lebih banyak dilakukan oleh kalangan laki-laki alih-alih oleh perempuan. Dengan begitu, perspektif kajian cenderung bersifat sudut pandang maskulin.

Menurut dia, perlu ada perluasan perspektif dari perempuan melalui pendekatan Al Quran dan Hadits sehingga menjadi proporsional.

“Dan nanti kita lihat hasilnya jika perempuan mengkaji Al Quran dan Hadits… Saat ini yang dominan menjadi pemimpin umat, ulama, penulis, kapasitasnya adalah laki-laki,” kata dia.

Baca juga: Istiqlal inisiasi estafet keilmuan ulama lewat Majelis Mudzakarah

Nasaruddin mengatakan laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di muka bumi harus memiliki kesempatan yang setara dalam pengelolaan alam semesta.

“Tidak boleh pengelolaan menjadi over maskulin, tidak boleh over feminin. Keseimbangan maskulin dan feminin sangat kita perlukan,” katanya.

Baca juga: Wapres: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral simbol kebhinnekaan

Berita terkait: