Peringatan HBII 2021 & Selebrasi Aksara Sunda: Momentum Digitalisasi Aksara Nusantara

Perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) 2021 dan Selebrasi Aksara Sunda berlangsung meriah pada Minggu (21/2). Di tengah pandemi Covid-19, kegiatan tahunan UNESCO ini tetap terselenggara baik secara daring berkat dukungan banyak pihak termasuk Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).

Erry Riana Harjapamekas, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, mengungkapkan di era digital saat ini, bahasa dan aksara nusantara harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman, agar bisa terus dikenal dan dilestarikan.

“Sangat penting untuk mengungkapkan warisan budaya kita secara lebih luas di tingkat internasional. Kita bersama-sama mengupayakan agar bahasa dan aksara Sunda dapat berkembang mengikuti perkembangan zaman,” kata Erry dalam keterangan resminya, Senin (22/2).

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan momentum HBII ini sangat penting untuk kembali menuturkan bahasa ibu masing masing. Sebab bahasa adalah representasi dari kehidupan manusia, sehingga mencerminkan identitas bangsa yang majemuk.

“Peradaban di masa yang akan datang harus diwarnai dengan kemampuan anak-anak kita, masyarakat kita semakin dalam memaknai bahasa ibunya,” ujarnya.

Dirjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Semuel A Pangerapan menyampaikan internet dan teknologi digital telah menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menyaksikan keberagaman budaya yang dibawa oleh masing-masing wilayah.

“Bertepatan dengan perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional 20201, upaya digitalisasi aksara nusantara dalam hal ini aksara Sunda merupakan bentuk ikhtiar kita untuk terus menjaga keberagaman budaya nusantara di ruang digital. Sebagai warisan bagi anak cucu kita nanti yang semakin mengandalkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari,” kata Dirjen Semuel dalam kesempatan terpisah.

Dalam perayaan HBII tahun ini, turut hadir Dr Ming Kuok Lim UNESCO Advisor for Communication. Dr Lim menjelaskan UNESCO mendukung penuh upaya pelestarian budaya daerah.

“UNESCO mengapresiasi dan mendukung penuh upaya-upaya untuk melestarikan bahasa ibu dari suatu daerah. Karena hal ini selaras dengan misi UNESCO, yaitu linguistic diversity,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berjanji pemprov terus mendukung program pelestarian budaya, bahasa, dan aksara Sunda ke depannya.

“Sebagai Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kami terus mendukung program-program penguatan kebudayaan dan pelestarian kebudayaan Sunda khususnya, karena kami melihat upaya-upaya ini akan meningkatkan pelestarian bahasa Sunda,” ucap Ridwan Kamil.

Libatkan 7.000 Orang dan 50 Pemenang

perayaan hari bahasa ibu internasional 2021 secara daring©2021

Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Etti RS mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mengikuti rangkaian acara di HBII tahun ini. Lebih 7.000 orang yang terlibat, 30 orang dewan juri, dan pemenang lomba sebanyak 50 orang.

“Terima kasih atas bantuannya baik moril maupun materil dari seluruh pemangku kepentingan yang terlibat,” ucapnya. 

Hal senada juga diungkapkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Endang Aminudin. Meski di tengah pandemi Covid-19, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2021 ditandai dengan semaraknya acara yang bisa kita saksikan di seluruh pelosok nusantara.

“Bukan hanya seminar, festival, lomba, dan gelar wicara, tapi banyak lagi acara yang dikemas dengan format baru, yang sangat kreatif. Di dalam komunitas penutur bahasa Sunda, kita melihat kesemarakkan itu. Belasan acara telah digelar dan melibatkan ribuan penutur bahasa Sunda dari berbagai wilayah tatar Sunda,” katanya gembira. 

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) melalui Ketua Yudho Giri Sucahyo menegaskan pentingnya pelestarian budaya aksara Sunda pada momentum Hari Bahasa Ibu Internasional, agar bisa memberikan sinyal pada dunia bahwa budaya dan aksara daerah di Indonesia memang ada dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita disindir oleh pengelola internet dunia (ICANN), bahwa aksara daerah kita hanya muncul di dekorasi. Hanya muncul untuk kepentingan sejarah dan pendidikan, serta belum digunakan secara umum untuk komunikasi. Mari kita jadikan sindiran dari ICANN tersebut sebagai semangat dan momentum untuk menggerakkan digitalisasi aksara nusantara,” pungkas Yudho.

Berita terkait: