Peran Oposisi Dinilai Semakin Pudar

Direktur Pusat Media dan Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES ), Wijayanto, menyampaikan, ada sedikitnya empat indikator kemunduran demokrasi yang terwujud dalam praktik otoritarianisme.

Empat indikator tersebut meliputi penolakan (atau komitmen lemah) terhadap aturan main yang demokratis, konsolidasi oligarki dan melemahnya lawan politik, toleransi atau dorongan kekerasan, dan kesediaan untuk membatasi kebebasan sipil terhadap lawan, termasuk media.

“Terlebih, pada tahun 2020 Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinet, yang sayangnya justru semakin menegaskan hilangnya oposisi dan semakin kuatnya oligarki,” kata Wijayanto, dalam seminar Outlook Demokrasi LP3ES, Nestapa Demokrasi di Tengah Pandemi, Refleksi 2020, Outlook 2021 , di Jakarta, Senin (11/1/2021).

BACA JUGA

Kualitas Demokrasi Pengaruhi Sistem Jaminan Sosial

Menurut Wijayanto, bergabungnya Sandiaga Uno yang tadinya adalah penantang Jokowi yang maju pilpres 2019 sebagai calon wakil presiden bersama Prabowo Subianto, merupakan refleksi dari semakin pudarnya oposisi .

Lebih jauh, faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran tersebut yaitu problem struktural, agensi dan kultural. Dari sudut pandang struktural dapat dilihat mengenai fenomena terkonsolidasinya oligarki yang masuk ke dalam berbagai lapisan institusi kekuasaan.

BACA JUGA

Fungsi Check and Balance Belum Maksimal

“Selanjutnya, ada pula problem agensi dimana para pemimpin terpilih secara demokratis yang justru memunggungi demokrasi,” ucapnya.

Sedangkan problem kultural direfleksikan dari publik yang masih setengah hati untuk mendukung demokrasi. “Kemudian ditambah dengan makin melemahnya masyakat sipil di sisi lainnya,” tandas Wijayanto.

Berita terkait: