Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di Semarang

Semarang, – Pak Pur pada Kamis pagi (17/9/2020), sibuk menyelesaikan pesanan peti mati di toko Cahaya Nusantara, Jalan Menoreh, Sampangan, Kota Semarang. 

Kedua tangannya yang renta terlihat masih cekatan mengamplas setiap sudut peti mati agar lebih halus. Pak Pur bilang sejak pandemik COVID-19 melanda Indonesia khususnya di Kota Semarang, aktivitasnya membuat peti mati semakin tambah sibuk. 

1. Perajin peti mati COVID-19 panen orderan selama masa pandemik

Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di SemarangSeorang perajin tampak tekun menggarap pesanan peti mati khusus jenazah COVID-19 di Semarang. /Fariz Fardianto

Ia kerap lembur sampai larut malam untuk merampungkan pembuatan peti mati. “Sekarang ini yang pesan tambah banyak. Rata-rata bisa sepuluh buah seminggu. Itu kejadiannya sejak bulan-bulan kemarin,” kata pria paruh baya tersebut saat berbincang dengan . 

Pak Pur merupakan satu dari beberapa perajin peti mati yang bekerja di Toko Cahaya Nusantara. Hampir saban hari, pekerjaannya mengamplas, mengecat hingga menyiapkan segala macam kebutuhan pesanan peti mati untuk dikirim ke berbagai rumah sakit di Semarang. 

“Kita sering dapat banyak oderan peti mati dari rumah sakit swasta soalnya selama pandemik COVID-19, kita ada kerjasama resmi sama mereka,” sahut Emi Widiarsi, sang pemilik toko Cahaya Nusantara. 

Baca Juga: Bikin Merinding, Peti Mati Jenazah Corona Diarak Keliling Banjarnegara

2. Perajin dapat order borongan untuk mengerjakan peti sesuai standar protokol kesehatan

Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di SemarangSebuah peti mati COVID-19 dilapisi cairan khusus. /Fariz Fardianto

Emi bilang sejak awal masa pandemik atau di bulan April, dirinya rutin mengerjakan pesanan peti mati untuk jenazah yang terpapar virus Corona.

Alhasil, ia pun mendapat borongan pembuatan peti mati COVID-19. Termasuk menyediakan berlapis-lapis plastik untuk membungkus peti, menyediakan alumunium oil sebagai pembungkus di dalam peti dan mayatnya hingga proses pengantaran peti mati memakai sebuah ambulans. 

“Yang kerjasama dengan toko saya itu ada tiga rumah sakit swasta, tapi beberapa kali sempat sama rumah sakit negeri. Sekitar dua bulan mulai Juli sampai Agustus, pesanan yang kita terima naik 200 persen. Setiap hari full terus pokoknya,” aku perempuan berjilbab tersebut. 

3. Selama Juli-Agustus pesanan peti mati COVID-19 melonjak drastis

Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di SemarangSeorang perajin peti mati COVID-19 saat mengerjakan pesanan dari rumah sakit. /Fariz Fardianto Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Ramalan Cinta Shio Lengkap di 2020, Prediksi Asmara Tahun Tikus Logam
  • Ramalan Karier Lengkap 12 Zodiak di 2020, Taurus, Leo Promosi!
  • Ramah ke Lawan Jenis, 6 Zodiak Ini Sering Dicap Gak Setia

Ia menceritakan tiap hari mengerjakan peti mati sekitar 4-6 buah. Saking banyaknya orderan, dalam sepekan bisa mengantarkan peti mati hingga belasan kali. 

Emi yang merintis bisnis peti mati bersama suami tercintanya sejak 2008 silam, otomatis mendapat berkah selama masa pandemik. “Kalau pas dua bulan terakhir, banyak banget pesanannya. Tapi pas masuk bulan September ini mulai landai. Kita baru dapat dua orderan,” ungkapnya. 

Di tokonya, harga sebuah peti mati COVID-19 dibanderol Rp1-Rp3 juta. Namun, jika ditambahi pernak-pernik ukiran kayu, maka harganya jauh lebih mahal. 

“Itu sih tergantung permintaan rumah sakit. Termasuk kalau ada yang pesan peti mati COVID-19 dengan ukuran jumbo. Biasanya ukuran jenazahnya yang besar. Itu harga petinya bisa sampai Rp10 juta,” bebernya.

Baca Juga: Nyaris Kolabs, Pengusaha Minta Pemprov Jateng Jatuhkan Sanksi Keras 

4. Toko peti mati harus nombok saat dapat order dari RS negeri

Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di SemarangProses pemakaman salah satu jenazah COVID-19 di TPU Pondok Ranggon pada Selasa (16/9/2020) (/Aldila Muharma – Fiqih Damarjati)

Namun, tak semua pesanan yang ia dapatkan berjalan mulus. Ada kalanya ia justru menelan pil pahit tatkala pihak rumah sakit menunggak pembayaran peti matinya. Pengalaman itu ia temukan saat mengerjakan orderan dari rumah sakit negeri. 

“Kadang kita kasihan sama perajinnya di sini. Kita harus nombok bayar gajiannya dulu. Soalnya kan dari rumah sakit negeri sering ngorder, tapi ngelunasin pembayarannya gak bisa seketika hari itu juga. Mereka bilangnya nunggu klaim pencairannya,” kata Emi tanpa menyebut identitas rumah sakit yang dimaksud. 

5. Hanya ada dua perajin peti mati yang kerjasama dengan RS Kota Semarang

Perajin Peti Mati Panen Order di Tengah Lonjakan COVID-19 di SemarangTumpukan peti mati COVID-19 di salah satu toko belakang RS Kariadi. /Fariz Fardianto

Selama pandemik, di Semarang hanya dua toko peti mati COVID-19 yang menjalin kerjasama dengan rumah sakit. Selain toko Cahaya Nusantara, ada juga sebuah toko peti mati lainnya di belakang kamar mayat RSUP dr Kariadi. 

Sementara itu, di lokasi toko peti mati belakang kamar mayat RSUP dr Kariadi, masih mengerjakan pesanan peti mati untuk jenazah COVID-19. 

Sejumlah peti mati COVID-19 telah siap dikirim ke sejumlah rumah sakit yang membutuhkan. “Pas masa pandemik orderannya memang banyak. Paling sering ya dari rumah sakit Kariadi. Karena jarak kita paling deket,” kata seorang perajin toko tersebut. 

Baca Juga: Positif COVID-19 dari Klaster Warung Makan Semarang, 1 Orang Meninggal