Penyair Muda di Pelantikan Biden Sita Perhatian Dunia

Salah satu momen yang paling banyak dibicarakan dalam pelantikan presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden bersama wakilnya, Kamala Harris, adalah penyair muda Amanda Gorman. Penyair berusia 22 tahun itu berhasil menyita perhatian dunia termasuk menjadi pembicaraan di media sosial, Rabu (20/1/2021), saat dia berseru kepada dunia “bahkan saat kita berduka, kita tumbuh”.

Gorman adalah penyair termuda dalam sejarah AS yang menandai transisi kepresidenan dan menandai transisi kekuasaan presiden. Dia menawarkan visi penuh harapan untuk negara yang terpecah belah lewat puisinya berjudul The Hill We Climb (Bukit yang Kita Daki).

Gorman yang berasal dari Los Angeles, bergabung dengan barisan penyair dalam pengukuhan presiden AS sebelumnya yaitu Robert Frost, Maya Angelou, dan Elizabeth Alexander.

“Menjadi warga Amerika lebih dari sekadar kebanggaan yang kita warisi. Itu masa lalu yang kita masuki dan bagaimana kita memperbaikinya” kata Gorman lewat syairnya.

BACA JUGA

Memuja Biden, Lady Gaga Nyanyikan Lagu Kebangsaan AS

“Kita tidak akan kembali ke masa lalu. Kita berpindah ke tempat seharusnya, negara yang terluka tapi utuh. Dermawan tapi berani. Sengit dan bebas,” lanjutnya.

Gadis kulit hitam itu berbicara di tangga Gedung Capitol yang baru saja mengalami trauma karena kerusuhan massa yang mengepung simbol demokrasi AS itu sambil membawa bendera Konfederasi, bom pipa, dan jerat. Gorman mengatakan warga Amerika harus bangkit mengatasi kebencian.

“Walaupun demokrasi bisa ditunda sementara, itu tidak akan pernah bisa dikalahkan secara permanen,” kata Gorman, mengingatkan tentang serangan mematikan di Capitol.

“Mari kita tinggalkan negara yang lebih baik dibandingkan yang tersisa saat ini. Kita akan mengangkat dunia yang terluka ini menjadi dunia yang menakjubkan,” lanjutnya.

BACA JUGA

Lady Gaga dan JLo Meriahkan Pelantikan Biden

Gorman adalah pemenang pertama penyair muda nasional AS pada 2017. Dia diundang oleh Ibu Negara Jill Biden setelah tampil membacakan syair dalam sejumlah acara sebelumnya termasuk perayaan 4 Juli bersama Orkestra Boston Pops. Dia juga menyatakan secara jelas keinginannya untuk tampil pada pelantikan, dalam kapasitas lebih besar, sebagai ambisi yang jelas disampaikan lewat syairnya.

“Kita, penerus negara dan masa, di mana gadis kurus kulit hitam, yang keturunan budak dan dibesarkan oleh ibu tunggal, bisa bermimpi menjadi presiden. Hanya untuk menemukan dirinya membacakan puisi untuk satu orang,” katanya.

Dalam wawancara dengan surat kabar The New York Times , Gorman mengaku hanya menulis beberapa baris puisi saat perusuh pro-Trump menyerang Capitol pada 6 Januari. Baru setelah insiden kekerasan itu, dia menyelesaikan puisinya dalam satu malam.

Berita terkait: