Peningkatan Literasi Digital Perlu Didukung Keterampilan Berpikir Kritis

Peningkatan literasi digital pada siswa perlu didukung keterampilan berpikir kritis yang mencakup kemampuan berpikir, menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan dari informasi yang sudah didapatkan. Dalam kaitannya dengan literasi digital , kemampuan ini penting untuk mengolah informasi yang telah didapat secara daring.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, rendahnya literasi menjadi faktor penting yang menyebabkan rentannya masyarakat terhadap hoax dan misinformasi maupun sisi-sisi gelap internet seperti fenomena cyberbullying , predator seksual, maupun penipuan online . Pemerintah perlu meneruskan upaya yang terstruktur untuk meningkatkan konektivitas antardaerah di Indonesia untuk memperkecil kesenjangan antara satu daerah dengan daerah lainnya. “Hal ini akan membantu banyak hal, tidak hanya pendidikan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” terang dia dalam siaran persnya, Jakarta, Selasa (23/2/2021).

BACA JUGA

Peran Perpustakaan Alami Perubahan Paradigma

Untuk meningkatkan literasi digital, perlu adanya usaha pemerintah meningkatkan akses internet terutama untuk daerah rural dan masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, konten pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat direvisi agar lebih relevan dengan tuntutan masa kini yang memerlukan kemampuan mengevaluasi informasi yang didapat dari sumber-sumber digital. Selain itu, kebiasaan berpikir kritis harus dikembangkan sejak di bangku sekolah agar kelak dapat menjadi masyarakat digital yang bertanggung jawab.

Nadia menyebutkan, berdasarkan survei dari Kementerian Kominfo dan Katadata, indeks literasi digital nasional ada di angka 3,47 di skala 4. Survei ini memperlihatkan bahwa level literasi digital Indonesia masih berada di tingkat yang belum memuaskan. Tidak hanya kemampuan menggunakan perangkat digital, literasi digital adalah kemampuan memproses dan mengevaluasi informasi yang didapat dari sumber-sumber digital secara kritis dan bertanggung jawab. “Literasi digital merupakan salah satu aspek dari payung besar kemampuan literasi. Jika dilihat dari sisi pendidikan, literasi anak Indonesia juga belum mencapai tingkat yang memuaskan,” ujar dia.

BACA JUGA

Kemkominfo Gencarkan Literasi Digital Masyarakat

Berdasarkan skor literasi Programme for International Students Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 71 dari 79 negara. Lebih lanjut, hanya 30% peserta didik yang mengikuti tes yang berada di maupun di atas level 2 dalam kemampuan membaca dibandingkan dengan 77% peserta didik dari negara-negara OECD. Selain itu, berdasarkan Survey of Adult Skills yang diselenggarakan tahun 2016, 70% orang dewasa Indonesia berada di maupun di bawah level 1 di literasi. “Dua survei ini memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memahami informasi secara kritis yang terdapat di dalam teks yang panjang dan kompleks,” pungkas Nadia.

Berita terkait: