Pengamat: Seorang Pendidik Tidak Boleh Berpikiran Sempit

Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan banyak guru-guru di Jakarta yang masih dirasuki pikiran sempit. Padahal sebagai pendidik seorang guru harus berwawasan luas. Pandangan Darmaningtyas tersebut mengacu pada soal ujian yang dibuat oleh guru yang memakai nama dua tokoh, yakni Anies dan Mega.

“Kalau guru berkualitas tak akan buat soal ujian seperti itu. Selain tidak berkualitas gurunya juga partisan. Sebetulnya hal itu tak boleh dilakukan karena kalau bikin contoh figur publik atau tokoh, harusnya tidak menimbulkan kontroversi,” ujar Darmaningtyas kepada Suara Pembaruan di Jakarta, Senin (14/12/2020).

Menurut Darmaningtyas, saat ini bukan hal yang mengagetkan lagi jika institusi pendidikan sudah dirasuki oleh orang-orang yang berpikiran sempit yang menonjolkan politik identitas. Hal itulah yang membuat kemunduran dari sistem pendidikan Indonesia.

Terkait dengan sanksi karena hal serupa juga terjadi sebelumnya di SMAN 58 Jakarta, Darmaningtyas mengatakan, sanksi bagi guru yang tak memiliki integritas dan partisan masih tidak jelas.

“Sanksi enggak ada. Mau beri sanksi bagaimana. Sudah itu belum ada aturan. Ditambah lagi panduan membuat soal itu tidak menyebut soal-soal yang bagaimana yang enggak boleh. Panduannya membuat soal itu normatif sekali baik bahasa dan sebagainya,” katanya.

BACA JUGA

Soal Ujian Siswa Dijejali Muatan Politik, DPRD DKI Bereaksi Keras

Sementara yang bertanggung jawab atas soal ulangan yang kontroversi itu adalah yang guru yang bersangkutan.

“Kalau ujian sekolah sepenuhnya tanggung jawab kepala sekolah,” katanya.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan Mochamad Roji juga menyayangkan munculnya soal ujian ulangan kelas 7 SMPN 250 Cipete, Jakarta Selatan yang berbau konten politik. Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan dalam waktu dekat akan mengumpulkan seluruh kepala sekolah di wilayah itu untuk memberikan arahan agar hal seperti itu tak terulang lagi di masa mendatang.

“Kita sangat menyayangkan tindakan oknum guru tersebut. Itu memang soal ulangan SMP kelas 7, yang diujikan secara daring. Soal ulangan itu dibuat oleh guru agama Islam,” ujar Roji kepada Suara Pembaruan.

BACA JUGA

Ada Anies dan Mega di Ujian Sekolah, Ini Penjelasan Disdik DKI

Menurut Roji, tak selayaknya seorang guru memilih tokoh politik salam membuat soal ulangan. Namun, dari hasil penelusuran awal, guru tersebut mengaku tidak menyangka soal ulangan tersebut viral di media sosial.

Terkait dengan sanksi, Roji mengatakan, kepala sekolah SMPN 250 yang akan memberi sanksi. Sebab, yang bertanggung jawab di sekolah adalah kepala sekolah.

Berita terkait: