Pengacara Djoko Tjandra Mengaku Tahu Surat Jalan dari Jenderal Polri

Pengacara Djoko Soegiarto Tjandra, Anita Kolopaking. telah membantah ia berkoordinasi dengan mantan Kepala Biro Pengawasan (Korwas) PPNS Bareskrim Brigjen Prasetijo Utomo.

Namun Anita mengaku tahu adanya surat jalan untuk Djoko yang disiapkan oleh Prasetijo. Gara-gara surat bernomor SJ/82/VI/2020/Rokorwas tertanggal 18 Juni 2020 itu Prasetijo dicopot dan disel.

“Tahu. Ada sebab ada akibat. Belum bisa dibuka di masyarakat. Saya tidak mau mendahului pemeriksaan Mabes Polri. (Saya) belum (diperiksa polisi),” kata Anita saat dihubungi Kamis (16/7/2020).

Seperti diberitakan Anita membantah ia berkoordinasi dengan Prasetijo terkait kliennya menyusul pembicaraan chat yang bocor. Isi chat itu Prasetijo melaporkan soal draf surat untuk red notice . Anita menyebut itu sebagai fitnah.

Brigjen Prasetijo sendiri telah dicopot dan ditahan Provost karena membantu pelarian Djoko dengan mengeluarkan surat sakti.

Baca juga:  Pengacara Djoko Tjandra Bantah Berkolaborasi dengan Jenderal Polri

Dalam surat tersebut Djoko diagendakan berangkat ke Pontianak, Kalimantan Barat dari Jakarta pada 19 Juni dan pulang 22 Juni 2020. Djoko ditulis sebagai konsultan.

Namun belum ada keterangan apakah Prasetijo juga punya peranan menghapus nama Djoko dari red notice Interpol.

Red Notice Djoko sudah “hilang” sejak 2014. Selama ini red notice diurus oleh Ses NCB yang berada di bawah Div Hubinter.

Sebelum menjadi Korwas PPNS, Prasetyo diketahui berdinas di Div Hubinter Polri.

Djoko adalah buronan. Sehari sebelum putusan dibacakan, Djoko kabur dari Indonesia ke Papua Nugini. Belakangan ia disebut berganti kewarganegaraan di sana.

Baca juga:  Bantu Djoko Tjandra, Brigjen Prasetijo Resmi Ditahan

Ia pun ditetapkan buron hingga hari ini. Keberadaannya kini tak lagi diketahui dan ia kembali membuat kontroversi baru setelah sempat mencetak KTP dan paspor Indonesia.

Berita terkait: