Penculikan Anak 3 Tahun di Ulujami, Motifnya Mau Dijadikan Anak dan Adik

Polres Metro Jakarta Selatan menetapkan P dan N sebagai tersangka kasus penculikan seorang anak perempuan berinisial PR (3), di kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Motif P menculik korban untuk dijadikan adik, sementara N mau diasuh sebagai anak.

“Jadi untuk motif pengakuan dari kedua tersangka yang sudah kita minta keterangan, dari P menyatakan bahwa yang bersangkutan karena sudah tidak punya saudara, karena kakaknya meninggal ya, jadi ingin mendapatkan saudara sehingga ada anak ini dibawa. Sedangkan, N karena yang bersangkutan sebagai ibu tidak bisa melahirkan anak lagi merasa ya sudah ini kita jadikan anak lagi. Jadi motifnya sementara itu yang kita gali dari keterangan awal tersangka setelah di BAP (berita acara pemeriksaan). Jadi intinya ingin menguasai, ingin menjadikan adik atau menjadikan anak,” ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Budi Sartono, Rabu (29/7/2020).

Dikatakan Budi, kronologi pengungkapan kasus bermula ketika Polsek Pesanggrahan menerima informasi dari masyarakat dan media sosial terkait adanya anak hilang, di Ulujami, Senin (27/7/2020) kemarin.

“Kemudian, anggota Polsek Pesanggrahan bersama orang tua korban melakukan pencarian. Karena tidak bertemu juga, akhirnya pada malam hari, dini hari jam 02.00 pagi membuat laporan polisi di Polres Metro Jakarta Selatan,” ungkapnya.

Budi menyampaikan, selanjutnya Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pesanggrahan membentuk tim mencari korban berdasarkan keterangan saksi-saksi dan rekaman kamera pengawas alias CCTV di sekitar lokasi.

“Dari CCTV yang kita ambil dari rumah tetangganya menandakan adanya terlihat tersangka yang membawa korban ditenteng. Dari situ saksi-saksi tersebut mengenali bahwa tersangkanya adalah P. Kemudian dilakukan pencarian. Alhamdulillah kemarin hari Selasa pukul 14.00 siang, kita bisa tangkap di daerah Munjul Permai, Kabupaten Tangerang. Kita amankan keduanya yaitu, P dan N,” katanya.

Menurut Budi, P dan N merupakan anak dan ibu. N turut ditetapkan sebagai tersangka karena mengetahui aksi anaknya P. “Makanya dua-duanya jadi tersangka karena ibunya mengetahui. Ibunya tahu ini anak adalah anak yang diambil tanpa sepengetahuan orang tuanya dengan paksa. Sama-sama ingin menguasai, makanya ibu dan anaknya ini kita jadikan tersangka,” jelasnya.

Budi menambahkan, korban PR dibawa kedua tersangka naik kereta rel listrik ke Stasiun Tigaraksa. Kemudian, mereka dijemput suami tersangka N menuju rumah di Desa Munjul, Solear, Kabupaten Tangerang.

“Jadi dibawa dulu ke Stasiun Tigaraksa. Di situ dijemput oleh bapaknya, suami dari tersangka N. Tapi bapaknya itu tidak diamankan karena dia tidak tahu. Dia hanya dikatakan gini, ‘ini ada anak kita mau asuh’. Tidak tahu pemiliknya siapa. Jadi bapaknya tidak tahu apa-apa karena bapaknya hanya menjemput saja di stasiun, dan hanya dijelaskan kedua tersangka tersebut bahwa ini ada anak yang mau kita urus di rumah,” jelasnya.

Menyoal apakah korban PR sempat mengalami tindakan kekerasan, Budi menuturkan, tidak ada tanda-tanda kekerasan.

“Sementara memang tidak ada kekerasan karena ini tujuannya adalah untuk mengamankan anak, menjadikan anak. Tapi memang tetap secara prosedur korban setelah di Polres langsung dilaksanakan visum. Kalau pun ada hanya goresan hanya penarikan tangan saja. Mungkin nanti hasilnya didalami. Tapi tidak ada kekerasan fisik, tidak ada,” tandasnya.

Berita terkait: