Pemerintah Didorong Perbaiki Kualitas Pembelajaran Jarak Jauh Fase Kedua

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia bidang (KPAI) bidang pendidikan, Retno Listyarti, mendorong pemerintah memperbaiki penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah memasuki fase kedua. Sebab, berdasarkan survei KPAI, sebagian besar atau sebanyak 79,9% siswa menyatakan tidak senang belajar dari rumah karena guru tidak melakukan interaksi selama PJJ dan hanya memberikan tugas saja.

“KPAI menyimpulkan bawa PJJ pada fase pertama berjalan tidak efektif dan efisien. PJJ sarat masalah teknis, jaringan dan ketidakmampuan keluarga peserta didik membeli kuota internet,” kata Retno, Rabu (22/7/2020).

Retno menyebutkan, sejumlah kendala pada fase pertama ini paling dominan adalah kuota internet. KPAI pun meminta agar pemerintah, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), membebaskan biaya internet untuk PJJ fase kedua selama enam bulan ke depan.

Retno menambahkan, fokus anggaran pendidikan sebaiknya ditujukan untuk memenuhi pelayanan PJJ fase kedua agar disparitas akses digital dapat diatasi. Tak hanya kuota internet tapi juga peralatan daring dan kemampuan guru menggunakan platform pembelajaran, termasuk anggaran menyiapkan infrastruktur normal baru di bidang pendidikan.

Selain itu, Retno juga berharap Kemdikbud segera melakukan penyederhanaan kurikulum 2013 (K13) atau kurikulum adaptif agar siswa, guru, dan sekolah tidak terbebani menuntaskan kurikulum sebagaimana kondisi normal. Kurikulum juga harus mengakomodir siswa SMA bidang IPA yang harus uji coba laboratorium serta siswa SMK yang membutuhkan keterampilan dan praktik di bengkel.

Selanjutnya, ia juga menyarankan sekolah untuk memetakan peserta didiknya sesuai kemampuan fasilitas seperti gawai dan kuota, dan apakah siswa didampingi orangtua/wali saat PJJ. Dengan begitu, diperoleh data anak-anak yang akan difasilitasi PJJ daring dan anak-anak yang harus menjalani PJJ luring.

Sedangkan untuk Dinas Pendidikan, Retno menyarankan mereka untuk memetakan sekolah-sekolah yang mampu melakukan pembelajaran daring dan tidak. Dengan demikian, mereka bisa membantu guru dan sekolah mempersiapkan modul untuk luring melalui pelatihan.

Menurut Retno, perbaikan dalam PJJ fase kedua ini bertujuan agar anak-anak dapat menjalani PJJ dengan kondisi bahagia. Pasalnya, PJJ diperpanjang tanpa perbaikan dan dukungan internet akan berpotensi meningkatkan stres pada anak yang berdampak pada masalah psikologis

Berita terkait: