Pemerintah Beri Pendampingan Tekni untuk Kendalikan Covid-19 di 8 Provinsi

Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan ada delapan provinsi yang sekarang ini menjadi prioritas pemerintah, yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kedelapan provinsi tersebut memiliki jumlah kasus konfirmasi positif terbanyak dan laju insidensi tertinggi. Hingga saat ini delapan provinsi tersebut memberikan kontribusi terbanyak atau sekitar 75% dari total kasus di Indonesia.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Achmad Yurianto mengatakan, saat ini pihaknya memberikan pendampingan teknis terhadap daerah-daerah tersebut untuk mengendalikan penularan.

“Ada pejabat kita yang ada di Semarang, di Surabaya, dan daerah lainnya. Mereka turun ke lapangan untuk memberikan pendampingan teknis ke dinas kesehatan setempat,” kata Yurianto ditemui Suara Pembaruan di kantornya, Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Menurutnya, tingginya kasus di delapan provinsi tersebut hanya terpusat di beberapa kabupaten dan kota, tidak tersebar di semua daerah di provinsi itu. Misalnya di Jawa Timur kasus terbanyak hanya di Surabaya, Jawa Tengah di Semarang, dan Kalimantan Selatan di Kota Banjarmasin.

Yurianto mengatakan, pendampingan yang diberikan Kemkes bertujuan untuk mencari tahu apa persoalan atau penyebab mengapa pertambahan jumlah kasus di daerah tersebut masih banyak meskipun sudah berbagai upaya penanganan dilakukan. Setelah itu baru dilakukan penanganan konkret sesuai permasalahan tersebut.

Misalnya, jika disebabkan ketidakpatuhan penduduk setempat dalam menerapkan protokol kesehatan, maka Kemkes berkoordinasi dengan Gugus Tugas/Satuan Tugas Daerah bagaimana membuat masyarakat lebih patuh.

“Contoh di Surabaya, kenapa itu? Misalnya karena banyak orang bandel, terus bagaimana caranya? Turunkan tentara, minta mereka yang mengawasi, karena (warga) takutnya sama tentara. Itu kita lakukan,” kata Yurianto.

Sedangkan di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), penambahan kasus positif terbanyak dari pasar tradisional. Penanganan konkretnya, pedagang diminta keluar berjualan di depan pasar dan dekat jalan. Antara pedagang dibatasi dengan kotak berjarak dua meter.

Kemudian jam operasional pasar dibatasi. Pembeli wajib menggunakan masker, dan tidak berkerumun. Ini bertujuan untuk mengurangi kontak erat, dan menekan risiko penularan di pasar. Upaya ini berhasil dilakukan di Payakumbuh, Sumatera Barat.

“Semua harus keluar jualan di depan pasar, ruang terbuka, jadi tidak ada orang yang masuk dan berkerumun di dalam pasar,” kata Yurianto.

Sebelumnya, Ketua Tim Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, berharap provinsi yang masih menjadi prioritas pemerintah dengan zonasi risiko tinggi ini harus benar-benar menggalakkan promosi kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Mulai dari jaga jarak, gunakan masker, hingga sering cuci tangan pakai air mengalir.

“Kami berharap semua masyarakan juga jaga imunitas, dan kita betul betul kerja sama membuktikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah disiplin jalankan protokol kesehatan. Kami juga berharap dengan cara seperti ini setiap minggu kami bisa sampaikan kabar baik karena makin lama masyarakat makin sehat,” kata Wiku.

Oleh karena itu menurut Wiku perlu ditingkatkan 3 T, yaitu testing (deteksi/diagnosa), tracing (pelacakan kasus) dan treatment (perawatan). Diharapkan kontribusi kasus ini makin berkurang dan kondisi Indonesia secara keseluruhan membaik pula.

Berita terkait: