Pembahasan Kontrak PLTSa Rawa Kucing Diperpanjang 3 Bulan

Pembahasan kontrak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang rencananya akan dibangun di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Rawa Kucing, Neglasari, Kota Tangerang, diperpanjang tiga bulan. 

Kesepakatan kontrak antara PT Tangerang Nusantara Global (TNG) dengan perusahaan pemenang lelang investasi, PT Oligo Infrastruktur Indonesia, terjadi pada 12 Juli lalu. Namun, lantaran alot, proses pembahasan draf kontrak diperpanjang hingga tiga bulan ke depan atau hingga 10 Oktober mendatang. Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT TNG, Edi Candra saat dihubungi media, Senin (27/7/2020).

“Karena alotnya pembahasan kontrak sehubungan dengan hak dan kewajiban dan hak hukum, subjek hukum, dan lain sebagainya sehingga memerlukan waktu lagi hingga tiga bulan ke depan. Banyak kendala dalam pembahasan draf kontrak sehingga belum menemukan kesepakatan. Antara lain, terkait para pihak, pengadaan lahan, skema bisnis, dan biaya pengolahan limbah sampah (BPLS) untuk operasional PLTSa Rawa Kucing,” tutur Edi.

Karena terkendala dengan pembahasan draf kontrak yang alot, Edi dan jajaran PT. TNG sempat melakukan pertemuan dengan Asisten Deputi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Asdep Menko Maritim), Purbaya Yudhi Sadhewa, pada Jumat, (17/7/2020) lalu.

“Kita sampaikan progresnya begini, kendalanya begini dan lain sebagainya dan nanti mereka akan memberikan solusinya seperti apa. Dan kita tetap menjalin kerja sama PT Oligo Infrastruktur Indonesia (OII) sebagai perusahaan yang akan membangun PTLSa dan PT OII merupakan konsorsium gabungan dari beberapa perusahaan multinasional yakni Amerika Serikat, Hong Kong, India, dan Malaysia,” lanjutnya.

Sebelumnya, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah sendiri mengaku kewalahan menangani masalah keuangan dalam pembangunanan PLTSa Rawa kucing sehingga saat ini proses pembangunannya mandek. Dirinya berkeinginan masalah anggaran pembangunan PLTSa ini diambil alih oleh Pemerintah Pusat.

“Kalau kita sih inginnya dialihkan ke Pusat. Karena pusat itu punya kapabilitas yang besar. Tapi sekarang kan ini kita masih berproses dengan Kemenko Maritim jadi masih berjalan lah. Saat ini proyek PLTSa telah mencapai tahap negosiasi kontrak. Lelang sudah tinggal masalah kontrak. Yang mandek saya nggak tahu yang tahu PT TNG,” tutur Arief.

“PLTSa memang jadi salah satu inovasi kita dalam mengatasi masalah sampah. Karena kalau TPA-nya yang ada sekarang paling hanya bisa menampung sampah hingga tiga tahun ke depan sehingga kita perlu PLTSa ini, selain itu kan bisa mengurasi masalah kekurangan listrik kalau memang ini bisa dibangun,” tandasnya.

Untuk diketahui, Kota Tangerang termasuk 12 daerah yang menjadi proyek percontohan untuk pembangunan PLTSa. Hal tersebut pun telah tertuang dalam Peraturan Presiden 35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik. Selain Kota Tangerang, proyek tersebut dilakukan di Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Manado.

Berita terkait: