Pelaku Usaha Diimbau Cerdas Jaga Merek dengan Konsep Dilusi

– Perkembangan bisnis yang pesat mendorong pelaku usaha untuk memiliki merek dagang yang dikenal baik konsumen. Sebab, reputasi positif yang melekat pada merek terkenal pasti menjadi tolak ukur keberlanjutan bisnis ke depan. Reputasi itu bisa berupa kualitas, keunikan, atau keunggulan teknis yang membedakan suatu merek terkenal dengan merek-merek lain. Tak heran jika merek terkenal dapat menjadi kekayaan komersial yang berharga dan disebut sebagai harta tidak berwujud ( intangible assets ) bagi suatu perusahaan.

BACA JUGA

Praktisi HKI Tegaskan Pentingnya Perlindungan Merek Terkenal

Executive Director Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) Justisiari P. Kusumah menilai, konsep dilusi merek tidak dapat serta merta diterapkan untuk merek sekunder ( secondary bran d). Merek sekunder ini biasanya dikenal sebagai nama varian ( variant name ) atau merek dagang yang merupakan suatu kalimat atau istilah yang deskriptif dan bukan merupakan elemen utama dari kesatuan merek tersebut. “Tujuannya untuk menjelaskan fungsi produk, kalimat/istilah deskriptif mengandung kata-kata yang umum digunakan sehari-hari ( generic words ) oleh konsumen dan pelaku usaha,” kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (7/4/2021).

Meskipun tidak ada regulasi khusus tentang dilusi merek, sebenarnya Undang-Undang No 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU Merek) sudah mengatur penggunaan istilah generik dan kalimat deskriptif dalam merek dagang terdaftar. Berdasarkan ketentuan tersebut, menurut Justisiari, suatu nama atau merek produk atau jasa yang mengandung suatu kata generik yang sama hanya dapat dilindungi jika secara keseluruhan nama produk atau merek tersebut memiliki unsur esensial yang telah memiliki daya pembeda terkait dengan produk tersebut.

BACA JUGA

Brand Harus Berdaptasi di Era Pandemi

Contohnya, suatu ilustrasi kasus terkait penggunaan nama “ABC TOP QUALITY” dan “AMANI QUALITY” sebagai suatu merek produk sepatu yang dimiliki oleh dua pihak berbeda. Justisiari menjelaskan, kalimat QUALITY dalam Bahasa Inggris bermakna “KUALITAS”, yaitu suatu kata yang sangat deskriptif (merupakan suatu penjelasan dari produk) dan sudah umum, sehingga tidak dapat dimonopoli oleh pihak mana pun.

“Selain itu, kata “QUALITY” bukan merek utama (main brand) dari kedua produk itu, melainkan hanya merek sekunderatau kata tambahan yang tidak dominan. Sehingga salah satu pihak pemilik merek di atas tidak seharusnya menggugat pihak lainnya dengan menerapkan konsep trademark dilution , dengan alasan penggunaan kata QUALITY dinilai telah mengecoh konsumen dan mengurangi keunikan dan menyebabkan kerugian bagi si penggugat,” jelasnya

Pendapat serupa disampaikan Guru Besar Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Rahmi Jened yang menjelaskan bawah setiap klaim atas generic term (istilah generik) untuk memperoleh hak eksklusif merek harus ditolak, karena pengaruhnya akan memberikan hak monopoli tidak hanya pada tanda yang digunakan sebagai merek, tetapi juga pada produk. Hal ini membuat tidak berdaya pesaing untuk dapat secara efektif memberi nama kepada produk yang diusahakan untuk dijualnya.

Berita terkait: