Pasien Covid-19 di Israel Menunggu Berjam-Jam di Ambulans karena RS Penuh

Dalam beberapa hari terakhir, pasien Covid-19 di Israel terpaksa menunggu di dalam ambulans selama berjam-jam karena kesulitan menemukan rumah sakit yang bisa menerima mereka, karena bangsal perawatan untuk pasien virus corona di seluruh negeri dibanjiri kasus baru.

Walaupun sebuah sistem telah diberlakukan untuk membagi pasien di berbagai rumah sakit, namun hal itu juga gagal menampung semua pasien karena terjadinya lonjakan jumlah pasien.

“Usulan mendistribuskan pasien hampir tak tepat,” kata direktur medis layanan gawat darurat Magen David Adom (MDA), Dr. Rafael Strugo, dilansir Haaretz, Rabu (23/9).

“Baru-baru ini kita melihat kasus terus bertambah yang kita sarankan ke rumah sakit khusus, dan di jalan kami mendapat pesan: ‘Jangan, jangan datang ke kami, kami tak punya ruangan.’ Mereka dalam kesulitan,” lanjut Sturgo.

MDA adalah badan kedaruratan medis nasional Israel yang juga menangani bencana, bank darah, dan menyediakan layanan ambulans.

Salah satu pejabat MDA mengatakan, situasi saat ini di sejumlah rumah sakit yaitu dikerahkan pasukan keamanan untuk mencegah ambulans masuk yang membawa pasien virus corona.

Sumber dari MDA lainnya mengatakan, petugas ambulans perlu waktu selama empat sampai lima jam mencari rumah sakit yang mau menerima pasien Covid-19.

Kebanyakan pasien yang dievakuasi ambulans tidak dalam kondisi serius. Mereka dibawa ke rumah sakit oleh layanan darurat adalah bagian dari sistem yang mulai berlaku sekitar dua bulan lalu untuk mengirim pasien dari hot spot virus.

MDA menyampaikan kepada rumah sakit dan Kementerian Kesehatan bahwa mereka tak lagi setuju untuk menghabiskan berjam-jam mencari rumah sakit untuk pasien mereka – dan akan membawa mereka ke rumah sakit berdasarkan instruksi Kementerian Kesehatan – bahkan walaupun rumah sakit menolak untuk menerima pasien. Ambulans akan meninggalkan pasien di pintu masuk ruang gawat darurat khusus virus corona, di mana mereka harus menunggu dengan pasien lainnya.

Pejabat kesehatan mengatakan ada ketidaksesuaian antara cara rumah sakit menghadapi situasi dan kenyataan di lapangan.

“Beberapa direktur rumah sakit berbicara dengan dua suara: Di satu sisi, mereka mengirimkan pesan bahwa kepadatan dapat ditanggung dan mereka memiliki kemungkinan untuk menerima lebih banyak pasien – keduanya agar masyarakat tidak menghindari datang ke rumah sakit, dan juga untuk menumbuhkan semangat optimis bagi tenaga medis di rumah sakit. Kenyataannya, situasinya lebih buruk,” kata seorang pejabat senior sistem kesehatan.

Ternyata rumah sakit yang didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan yang mampu menerima lebih banyak pasien ternyata tidak mampu melakukannya.

“Karena jumlah mereka yang dirawat di rumah sakit di mana-mana di negara ini telah meningkat, masalah pengaturan distribusi mereka menjadi hampir tidak relevan,” kata Strugo.

“Semua rumah sakit sedang kacau dan tidak mungkin untuk bermain-main terlalu banyak. Semakin besar peningkatan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, semakin sedikit kemampuan untuk mengatur distribusi dan mentransfer pasien. “

Menurut sumber di MDA dan sistem pelayanan kesehatan, dengan meningkatnya kasus baru dan beban kerja di rumah sakit, proses redistribusi menjadi rumit. Hal ini ditandai dengan tidak adanya arahan yang jelas dan kurangnya koordinasi.

“Seorang pasien yang dicurigai atau diverifikasi virus corona membutuhkan evakuasi ke rumah sakit. Tim ambulans mendatangi rumah sakit, yang mengatakan bahwa tidak ada kamar dan mereka harus mengungsi ke rumah sakit lain. Dan dengan demikian memulai proses yang berlangsung selama berjam-jam. Sopir mulai mengemudi berputar-putar atau berdiri di pinggir jalan dengan jendela terbuka, sementara seluruh tim tetap mengenakan pakaian pelindung,” kata seorang sumber MDA.

Selama itu pasien yang dievakuasi menunggu bersama tim. “Bahkan setelah menemukan rumah sakit yang mau menerima pasien, dan sampai di sana, ternyata ruang gawat darurat biologis (ruang gawat darurat pasien terduga virus corona) ramai dan kami harus menunggu lebih lama. Ini mencapai titik di mana pasien, yang harus menunggu di dalam ambulans, tidak bisa buang air. Terkadang, saat kami menunggu, kami mendapatkan pot kamar pembuangan untuk pasien dan dia harus buang air di dalam ambulans, di depan tim,” kata seorang sumber MDA.

Hasil klaim MDA, setelah berjam-jam menunggu, pasien yang dievakuasi ke rumah sakit putus asa, meninggalkan IGD dan meminta untuk pulang.

“Kami mendapatkan situasi di mana seorang pria berusia 80 tahun yang diduga terkena virus corona dievakuasi ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya, menghabiskan berjam-jam menunggu di ambulans dan di rumah sakit, dan di penghujung hari, setelah itu menerima hasil tes, harus pulang karena tidak perlu dirawat di rumah sakit,” jelas sumber ini.

Menurut Strugo, “Itu tidak dilakukan karena niat jahat atau sengaja. Rumah sakit benar-benar kelebihan beban. Ada selang waktu dalam laporan kondisi penuh sesak dan angka rawat inap dan hunian di rumah sakit. Dan dalam banyak kasus, rumah sakit mengalami kesulitan menerima pasien meskipun tingkat hunian yang dilaporkan lebih rendah. Dalam beberapa hari terakhir kami sudah melihat peningkatan okupansi bangsal virus corona hingga 100 persen dan lebih banyak lagi. Oleh karena itu, kami harus mencari solusi lain – apakah dengan menambahkan slot kerja untuk pengemudi ambulans atau dengan memperluas kemampuan MDA untuk melakukan klarifikasi dan perawatan awal di rumah pasien. ” [pan]

Baca juga:
Q&A: Seluk Beluk Normalisasi Hubungan Israel dengan UEA dan Bahrain
Internal Kerajaan Saudi Terbelah dalam Isu Normalisasi dengan Israel
Peneliti Israel Temukan Bakteri yang Dapat Sembuhkan Virus Corona
Sepertiga Yahudi Pemilih Benjamin Netanyahu Percaya Covid-19 Dikirim Tuhan
Muhammad dan Maryam, Nama Bayi Paling Populer di Israel
UEA dan Bahrain Berdamai dengan Israel, Arab Saudi Tegaskan Dukung Rakyat Palestina
Israel Tandatangani Kesepakatan Normalisasi dengan UAE dan Bahrain di Gedung Putih
Abraham Accord: Kemenangan Israel dan Palestina yang Ditinggalkan Negara-Negara Arab

Baca Selanjutnya: Sumber dari MDA lainnya mengatakan…

Halaman

  • 1
  • 2
  • 3

Berita terkait: