Para Korban Tolak Penghapusan Sudan dari Daftar Pendukung Terorisme

Para korban menolak kesepakatan yang dibuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencabut Sudan dari Daftar Negara Pendukung (Sponsor) Terorisme. Salah satu pengacara yang mewakili korban serangan teror tahun 1998 beserta keluarga mereka, Michael Miller, mengatakan mayoritas kliennya menolak rencana Trump.

Miller mengatakan kesepakatan tersebut, yang mengharuskan Sudan membayar US$ 355 juta (Rp 5,1 triliun) untuk menyelesaikan klaim terkait pengeboman, telah mendiskriminasikan para korban berdasarkan kewarganegaraan mereka.

Kesepakatan itu membuat kompensasi untuk korban warga Amerika beserta keluarganya jauh lebih besar dibandingkan para korban warga Afrika Timur yang bekerja untuk dua kedutaan besar AS yang dibom saat itu.

“Saya tidak percaya nyawa warga Amerika lebih berharga dibandingkan rekan kerja saya yang duduk di meja sebelah karena seseorang terlahir di Kenya dan orang lainnya terlahir di Amerika,” kata Miller dalam wawancara dengan VOA Sudan Selatan, Senin (19/10).

Trump sebelumnya mengumumkan akan menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme setelah Sudan setuju membayar kompensasi untuk korban Amerika dan keluarganya yang diserang oleh militan negara itu pada 1998.

Perundingan Sudan-AS sejak lama difokuskan kepada keinginan Washington agar Khartoum menempatkan dana dalam escrow untuk dibayarkan kepada korban serangan Al Qaeda di Kedutaan Besar AS di Kenya dan Tanzania pada 1998. Serangan itu menewaskan total 224 orang dan melukai ribuan orang lainnya.

Berita terkait: