Pandemi Covid-19 Jangan Mematikan Hak Anak

Jakarta, – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia tak dipungkiri juga berdampak pada tumbuh kembang anak. Hal tersebut diakui oleh 20 anak yang mencurahkan isi hatinya kepada pemerintah melalui diskusi virtual “Temu Anak Peduli 2020”, Rabu (22/7/2020).

Diskusi virtual bertema “Aku dan Corona ” dihadirkan khusus dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2020).

Dalam diskusi terkuak apa saja yang anak-anak rasakan, alami, dan lakukan selama pandemi Covid-19. Berbagai persoalan pun mereka buka. Salah satunya adalah rasa jenuh yang telah memuncak karena empat bulan tidak bisa melakukan belajar tatap muka di sekolah.

Seorang anak, Indah Setia Rini (17), kelas 3 SMP Muhammadiyah Kulonprogo, Yogyakarta, mengaku sangat berharap Covid-19 bisa segera berlalu dan ditemukan obatnya.

“Setelah Covid-19 selesai, saya ingin masuk sekolah lagi. Bertemu dengan guru, bermain bersama teman, dan juga merasakan kondisi sekolah yang baru,” tuturnya Rabu (22/7/2020).

Menanggapi keinginan Indah, Direktur Pendidikan Usia Dini (PAUD) Kemdikbud Muhammad Hasbi, memberikan semangat kepada para anak-anak yang merasa bosan tinggal dan belajar di rumah.

Pelan-pelan ia menjelaskan, bahwa kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan oleh pemerintah ini semata-mata untuk melindungi anak-anak dari penularan penyakit Covid-19.

“Kemdikbud tidak tuli, kita mendengarkan semua keluhan adik-adik sekalian. Namun yang perlu adik-adik pahami, kita ingin melihat kalian berada di garda terdepan mengawal kebangsaan Indonesia 20-30 tahun mendatang. Kita ingin memastikan, kita yang tua memiliki pengganti yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu, kalian semua harus hidup untuk menjadi saksi usaha kami di masa sekarang,” terangnya.

Tidak hanya Indah, suara keluh kesah juga datang dari mereka yang tengah mendapat bimbingan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Selain mengharapkan kembali aktivitas binaan secara tatap muka, mereka juga merindukan kunjungan para keluarga.

Mengingat saat ini keluarga yang ingin berkomunikasi dengan anak didik pemasyarakatan (Andikpas) menggunakan video call saja, demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 di LPKA.

“Saya sangat sedih sekali karena tidak bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat yang biasanya berkunjung. Setelah keluar dari sini, saya ingin kembali mendapatkan hak saya untuk mendapat pendidikan. Saya ingin menjadi teknisi. Saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi bidang kelistrikan,” terang Didut dari LPKA Jakarta kelas II.

Berita terkait: