Operasi Patuh Jaya Akan Digelar 23 Juli

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya , bakal kembali memberlakukan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas di Ibu Kota Jakarta, pekan depan. Termasuk, menggelar Operasi Patuh Jaya pada tanggal 23 Juli 2020 mendatang.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo mengatakan, selama masa pandemi Covid-19, anggota memprioritaskan penanganan peneguran terkait kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan tidak melakukan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas.

“Kami melihat bahwa tingkat kepatuhan terhadap undang-undang lalu lintas itu terjadi penurunan sehingga banyak pelanggaran lalu lintas seperti lawan arus, tidak menggunakan helm, naik jalan layang non tol. Oleh sebab itu, minggu depan, kita akan melakukan penindakan terhadap 15 jenis pelanggaran,” ujar Sambodo, Kamis (16/7/2020).¬†

Dikatakan Sambodo, Ditlantas Polda Metro Jaya juga akan menggelar Operasi Patuh Jaya, pada 23 Juli mendatang. “Kita juga akan melaksanakan Operasi Patuh pada 23 Juli, selama 14 hari itu kita akan melakukan Operasi Patuh untuk memberikan cipta kondisi. Tapi kita akan melakukan sosialisasi juga sebelum melakukan penindakan tilang,” ungkapnya.

Sementara itu, pemerhati masalah transportasi Budiyanto mengatakan, dalam manajemen operasi kepolisian dibagi dua yakni, operasi rutin dan operasi khusus. Operasi Patuh Jaya, termasuk dalam operasi khusus kepolisian yang dilaksanakan rutin setiap tahun dalam rangka meningkatkan disiplin masyarakat pengguna jalan.

“Penekanan dalam Operasi Patuh biasanya pada aspek penegakan hukum (represif justice dan non justice) terhadap pelanggaran lalu lintas yang berpotensi pada fatalitas kecelakaan lalu lintas. Misalnya melawan arus, tidak menggunakan helm dan stop line ,” katanya.

Menurut Budiyanto, penegakan hukum biasanya dibarengi dengan kegiatan preemtif seperti sosialisasi atau pemberian pemahaman. “Kemudian, preventif melakukan penjagaan atau patroli pada lokasi rawan pelanggaran lalu lintas,” ucapnya.

Budiyanto menuturkan, Operasi Patuh Jaya kali ini bersamaan dengan mewabahnya Covid-19 dan menuju pada era adaptasi kebiasaan baru, sehingga cara bertindak dalam kegiatan penegakan hukum harus disesuaikan untuk menghindari berkerumunnya pelanggar dan bersentuhan langsung agar menekan angka penularan.

“Penegakan hukum bisa dilakukan dengan cara razia stasioner atau hunting system . Namun, cara razia dengan stasioner berpotensi berkerumunnya pelanggar atau orang pada lokasi atau obyek razia. Merujuk pada pengalaman ini proses penegakan hukum yang tepat dengan cara hunting system (patroli). Melalui cara ini berkerumunnya pelanggar dapat dihindari dan tidak menimbulkan kontak antar-pelanggar sehingga tidak terjadi penularan Covid-19,” jelasnya.

Budiyanto melanjutkan, Operasi Patuh Jaya harus disosialisasikan sehingga masyarakat paham, dan tujuan untuk mendisiplinkan pengguna jalan dapat tercapai dengan maksimal.

“Dengan kesiapan dan pemahaman yang matang baik dari petugas maupun masyarakat, operasi akan berjalan dengan maksimal serta mendapat dukungan dari masyarakat secara luas,” tandasnya.