Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp14.565 per USD

Nilai tukar Rupiah ditutup melemah 30 poin walaupun sempat melemah 60 poin di level Rp14.565 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.535 per USD. Sedangkan untuk perdagangan minggu depan, mata uang Rupiah kemungkinan masih akan melemah direntang Rp14.545 hingga Rp14.590 per USD.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, Bank Indonesia hari ini merilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menunjukkan perbaikan. Pada Maret 2021, BI mengumumkan IKK berada di 93,4. Meningkat dibandingkan dengan 85,8 dan 84,9 pada Februari dan Januari 2021.

“IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Di atasnya berarti optimistis, sementara di bawahnya berarti pesimistis. Artinya, IKK di bulan Maret memang sudah membaik tetapi konsumen cenderung masih pesimistis atau belum pede memandang perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang,” ujarnya dalam riset harian, Jakarta , Jumat (9/4).

Selain itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau membaik. Ini didorong perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan pembelian barang tahan lama.

Sementara pada Rabu lalu, BI melaporkan cadangan devisa per akhir Maret sebesar USD 137,1 miliar, turun USD 1,7 miliar dari bulan Februari. Tetap tinggi meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari 2021 sebesar USD 138,8 miliar.

Penurunan cadangan devisa utama terjadi karena pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jauh tempo. Selain pembayaran utang jatuh tempo, rupiah yang mengalami tekanan di bulan Maret lalu kemungkinan besar juga menggerus cadangan devisa.

“Pelemahan Rupiah tentunya membuat kebutuhan penggunaan cadangan devisa untuk melakukan intervensi cukup besar,” jelas Ibrahim.

Dari segi lainnya, dampak pelarangan mudik 2021 akan berpengaruh besar bagi ekonomi dan bisa menekan ekonomi triwulan II yang sebelumnya pemerintah mengefektasikan 7 persen sampai 8 persen. Selain itu juga mengkhawatirkan efektivitas pelarangan mudik, jika pengawasannya tidak maksimal maka potensi mobilitas warga masih akan besar dan kasus covid-19 bisa kembali meningkat.

Berita terkait: