Miris, Stunting Masih Dianggap Hal Biasa

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.Tentunya akan mempengaruhi masa depan anak kelak. Mirisnya, banyak orang yang menganggap stunting adalah hal biasa.

Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar mengakui masih banyak anak-anak yang mengalami stunting atau masalah kurang gizi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28,8 persen warganya menderita kurang gizi.

” Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak pada pertumbuhan anak, masyarakat harus tahu masalah stunting supaya bisa diminimalisir keberadaannya,” ujar Ahmed dalam keterangan pers diterima Sabtu (18/7/2020).

Aktivis kesehatan anak, Yuli Supriati mengatakan di beberapa daerah, stunting masih belum menjadi kekhawatiran masyarakat. Calon ibu dan ibu-ibu muda, dikatakan Yuli masih banyak yang tidak teredukasi mengenai stunting .

“Masyarakat tidak paham apa itu stunting , apa penyebabnya, seperti apa tanda-tandanya dan apa yang harus dilakukan. Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya 2 kilogram, tapi orang tuanya masih ngotot anaknya baik-baik saja,” jelas Yuli.

Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa, Tangerang beberapa waktu lalu, ia mendapati sebanyak 36 anak usia dibawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang.

Sebanyak 21 anak diantaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun. Di desa Cileleus, Tigaraksa Tangerang, Yuli bertemu Mutia dan Tegar, dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Tegar berusia 2 tahun, dengan berat badan yang hanya 7 kilogram (kg).

“Padahal, untuk anak normal, di usia dua tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki,” katanya.

Yuli menjelaskan penyebab stunting adalah asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Salah satunya, penggunaan kental manis yang dianggap sebagai minuman susu untuk anak.

Hal itu pun yang diakui oleh keluarga Mutia dan Tegas yang mengaku tidak mengetaui hal tersebut. Pasalnya, mereka menganggap kental manis adalah susu seperti yang diiklankan melalui televisi, rasanya manis disukai anak dan harganya terjangkau. Mirisnya, asupan yang salah itu tidak hanya dialami Mutia dan Tegar.

“Ada banyak anak-anak lain yang bernasib sekedar kenyang, tanpa mereka tahu bahwa yang mereka makan dapat menjadi racun bagi tubuh mereka kelak,” tutup Yuli.

Berita terkait: