Meskipun Dikucilkan WHO, Taiwan Berhasil Redam Covid-19

Taiwan, negara dengan populasi 23,7 juta penduduk, hanya memiliki 451 kasus Covid-19 dan tujuh korban jiwa. Taiwan juga dikucilkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena tidak dianggap sebagai negara yang berdaulat, tetapi respons mereka terhadap pandemi Covid-19 adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Apa rahasianya? Laporan khusus yang dibuat CNBC mengidentifikasi beberapa hal.

Salah satu kunci sukses Taiwan adalah kebijakan karantinanya. Pendatang diwajibkan melakukan karantina selama dua minggu setelah memasuki Taiwan. Isolasi mandiri ini menggunakan biaya sendiri tetapi pemerintah memberikan subsidi, mengirimkan makanan, memastikan kondisi kita baik-baik saja, dan mengucapkan terima kasih atas kerja samanya.

Pada bulan Januari, Taiwan sudah menerapkan pembatasan perjalanan yang ketat dan menerapkan sistem karantina mandiri menggunakan teknologi geofencing . Pada 22 Juni, negara-negara dengan risiko Covid-19 rendah mulai dikecualikan dari karantina wajib.

“Berada di dekat Tiongkok, Taiwan bisa terkena bencana besar. Namun, minimnya kasus Covid-19 di Taiwan adalah hal yang luar biasa,” kata Dr Ezekiel Emanuel, penulis buku tentang sistem-sistem kesehatan terbaik di dunia.

Keberhasilan Taiwan meredam penyebaran Covid-19 juga berkat pengalaman negara itu ketika menghadapi wabah SARS tahun 2003. Tsung-Mei Cheng, analis kebijakan kesehatan Princeton University, mengatakan Taiwan memiliki banyak profesional yang terlatih selama bertahun-tahun menangani wabah penyakit menular.

WHO tidak menganggap Taiwan sebagai negara yang berdaulat, melainkan bagian (provinsi) dari Tiongkok, sehingga Taiwan terlambat mendapatkan informasi Covid-19. Namun, Taiwan memiliki sistem peringatan dini soal wabah penyakit di dunia. Jika Taiwan adalah anggota WHO, maka Taiwan bisa berbagi pengalaman dan membantu negara lain.

Tanpa bantuan WHO, Taiwan mampu menciptakan rencana yang baik dengan cepat dalam melawan Covid-19. Akses ke tes cepat mudah dan gratis. Di setiap tempat ada pengecekan temperatur dan kewajiban menggunakan masker. Denda yang besar juga berlaku bagi warganya yang bandel.

Tekanan sosial juga berperan. Jika ada warga yang bandel (tidak memakai masker atau kabur dari karantina) maka akan dipermalukan dengan cara disebut namanya dan disebar fotonya secara publik dan di media sosial.

Pemerintah Taiwan juga cepat dalam memastikan persediaan masker dan aplikasi yang memberikan informasi terkait ketersediaan masker terdekat.

Di awal pandemi, Taiwan memberikan informasi terkini kepada publik setiap hari, tetapi sekarang telah berkurang menjadi mingguan. Kepercayaan publik terhadap Pusat Komando Epidemi Taiwan sangat tinggi.

Setiap warga Taiwan memiliki rekam medis digital sehingga memudahkan dokter mengakses informasi terkait pasien secara online. Informasi ini digunakan pejabat kesehatan untuk memperingatkan dokter soal pasien yang berisiko tinggi berdasarkan rekam perjalanan mereka.

Warga Taiwan juga memiliki kesadaran komunitas yang tinggi, di mana mereka tidak egois dan menempatkan kepentingan pribadi mereka di atas kepentingan bersama. Hal ini kontras dengan negara lain seperti AS yang cenderung individualistik.

Menurut William Hsiao, profesor ekonomi dari Departemen Kesehatan dan Manajemen Harvard T.H. Chan School of Public Health, tidak banyak hal yang bisa dilakukan Pemerintah Taiwan untuk memperbaiki respons mereka terhadap Covid-19. Satu hal yang perlu difokuskan adalah edukasi. Masyarakat perlu terus diingatkan akan risiko Covid-19 dan jangan lengah dengan keberhasilan sekarang.

Hsiao menyarankan agar negara-negara lain membentuk komite nonpolitik untuk memantau penyakit menular dan mempersiapkan diri ke depan.

Beberapa kritik terhadap respons Taiwan antara lain: kesulitan pendatang mendapatkan masker, kemampuan pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik warganya yang dinilai melanggar privasi, dan masih banyak perusahaan-perusahaan yang mewajibkan karyawannya ke kantor di tengah-tengah Covid-19.

Berita terkait: