Mengungkap Teka-Teki Kematian Yodi Prabowo

Tengah hari, Jumat (10/7/2020) lalu, warga Ulujami dan sekitarnya digegerkan dengan penemuan mayat pria dengan posisi telungkup mengenakan helm, jaket, celana panjang hitam, sepatu, dan tas selempang, di sisi tembok Tol Lingkar Luar Jakarta, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Korban mengalami empat luka tusuk di bagian dada dan luka di leher. Selanjutnya, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto untuk diautopsi.

Polisi tak kesulitan mengidentifikasi jenazah yang telah membengkak dan membusuk itu, sebab identitasnya tidak hilang. Korban diketahui bernama Yodi Prabowo , editor Metro TV .

Kematian Yodi kemudian menarik perhatian khalayak ramai. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana, membentuk tim khusus gabungan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pesanggrahan. Dia meminta agar kasus ini mendapatkan atensi untuk diungkap segera.

Sebelum Meninggal, Yodi Prabowo Sempat Ucapkan Hal Ini ke Pacar

Pada mulanya Yodi tewas diduga karena dibunuh, bukan karena ulah pelaku begal atau perampokan. Sebab, tidak ada barang pribadinya yang raib. Serangkaian kegiatan penyelidikan pun digelar dengan diawali kegiatan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat mengatakan, pada saat olah TKP pertama penyidik mendapatkan fakta kalau sepeda motor Honda Beat milik korban terparkir dengan rapi di sebelah kiri lokasi penemuan jenazah korban. Pada pukul 00.00 WIB, Rabu (8/7/2020), saksi petugas keamanan lingkungan belum melihat sepeda motor itu. Namun, ketika kembali berkeliling ronda dia menemukan sepeda motor itu dengan kunci masih tergantung, sekitar pukul 02.00 WIB.

Ayah Yodi Prabowo Tidak Percaya Anaknya Diduga Depresi dan Bunuh Diri

“Kesimpulan tidak ditemukan sidik jari orang lain. Untuk menyamakan dan menyakinkan hal tersebut, polisi sudah melakukan swab (DNA saksi), hasilnya tidak ada yang identik dengan apa yang tertinggal di TKP, semua milik korban. Tidak melihat adanya kehadiran orang lain berdasarkan hasil labfor. Pisau, itu pun nyata. Pisau di ujung dan gagangnya jelas DNA punya korban. Ditemukan rambut, itu milik korban,” katanya.

Tubagus mengungkapkan, pada saat malam kondisi di TKP memang sangat sepi, semua warung yang berada di pinggir Jalan Ulujami rata-rata tutup pada pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, dan tidak ada CCTV.

“Dari hasil olah TKP, TKP masih rapi tidak ada menunjukan tanda-tanda perkelahian. Hasil pemeriksaan saksi juga tidak mendengar adanya keributan,” katanya.

Setelah mengetahui kalau di pisau tidak ada sidik jari dan DNA orang lain, kemudian muncul pertanyaan dari mana asal pisau?

Penyidik pun melakukan penelusuran. Hasil analisa dan pelacakan, pisau itu ternyata memiliki merek khusus yang diduga hanya dijual di salah satu toko. “Dari mana datangnya pisau ini, kemudian kita masuk kepada bukti pendukung yang pertama adalah CCTV di Ace Hardware yang ada di Rempoa. Pisau tersebut memiliki merek khusus, kemudian penyidik melakukan penelusuran yang menjual hanya toko itu,” jelasnya.

Penyidik memeriksa 34 saksi terkait kasus kematian Yodi, salah satunya merupakan sang kekasih bernama Suci Fitri Rohmah (24). Berdasarkan keterangan, korban sempat mengatakan beberapa kali kepada pacarnya bagaimana kalau dia tidak ada. Kata “tidak ada” di sini diduga bermakna meninggal dunia.

“Dari beberapa keterangan saksi yang menonjol adalah bahwa korban pernah menyatakan berulang-ulang kepada S (Suci), setelah konflik yang sedemikian kuat, kemudian dia menyampaikan kurang lebih begini: ‘kalau saya tidak ada bagaimana?’ Pengertian menurut tafsiran kami kalau saya meninggal bagaimana. Ini disampaikan berulang-ulang kepada S,” bilangnya.

Diketahui, di tengah kisah cintanya dengan Suci ternyata Yodi juga memiliki teman dekat berinsial L. Memang sempat terjadi sedikit konflik diantara mereka -diduga cinta segitiga-, namun sudah bisa diselesaikan.

Sementara itu, penyidik juga menemukan sisi lain dari kehidupan korban tapi tidak dijelaskan secara detail. “Ada latar belakang lain dalam kehidupan si korban yang mungkin tidak saya sampaikan di sini. Apakah ini menjadi pemicu terhadap tingkat depresi seseorang, ini kita dalami lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan analisa tentang data record dan telepon genggam korban, tidak ada ancaman atau sesuatu yang mencurigakan. “Analisa berdasarkan CDR tentang data record- nya dan juga WA (Whatsapp) dan lain sebagainya, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada ancaman dari luar, dan lain-lain,” katanya.

Yodi Prabowo Diduga Kuat Meninggal Akibat Bunuh Diri

Sementara itu, kedokteran forensik juga melakukan pemeriksaan terkait narkoba dan ditemukan adanya kandungan amfetamin di urinenya. “Pemeriksaan narkoba, di dalam jaringan urinenya kami temukan adanya kandungan amfetamin positif,” paparnya.

Perihal kandungan amfetamin itu, diduga zat itu memunculkan keberanian terhadap seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang tidak mungkin. “Beliau (dokter forensik) sudah kami periksa dalam berita acara pemeriksaan sebagai ahli. Jawabnya demikian, kalau diperiksa urinenya amfetaminnya positif berarti dia mengkonsumsi amfetamin. Lalu apa pengaruhnya amfetamin terhadap kejiwaan seseorang sehingga mampu melakukan suatu hal yang oleh orang normal dianggap tidak mungkin yaitu, meningkatnya keberanian yang sedemikian luar biasa,” kata Tubagus.

Tubagus menegaskan, jangan pernah membandingkan pemikiran orang normal dengan orang yang sedang tidak normal karena tidak menyambung atau tidak sepadan. “Maka yang harus diukur adalah bagaimana pengaruh amfetamin itu terhadap keberanian seseorang untuk melakukan satu tindakan yang menurut orang normal tidak mungkin dilakukan,” terangnya.

Sementara itu, muncul pertanyaan, mungkin tidak korban melakukan dugaan bunuh diri dengan cara menusukkan pisau hingga terluka lebih dari tiga kali di dada dan leher?

“Saya mendasari kepada fakta pemeriksaan ahli. Ahli mengatakan demikian, setiap orang yang melakukan bunuh diri dengan senjata tajam akan selalu ada bukti permulaan, akan selalu ada luka percobaan. Dicoba-coba dulu,” tambah Tubagus.

Tubagus menjelaskan, pada tubuh korban ditemukan ada empat luka tusuk di bagian dada yang kedalamannya bervariasi mulai dari sekitar 1 sentimeter, 2 sentimeter, hingga tembus masuk memotong bagian dalam paru-paru. “Bagaimana hasil kedokteran forensik, ditemukan fakta bahwa ada empat luka di dada yang dua atau tiga diantaranya adalah luka dangkal yang tidak sampai 2 sentimeter. Itulah yang dianggap sebagai luka percobaan,” ucapnya.

Setelah melakukan serangkaian penyelidikan melalui olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan saksi, meminta keterangan ahli, analisa kedokteran forensik dan laboratorium forensik, penyidik pun menyimpulkan Yodi diduga kuat bunuh diri karena dugaan depresi.

“Dari beberapa faktor, dari beberapa penjelasan keterangan ahli, dari pemeriksaan saksi, dari olah TKP, keterangan lain, dan bukti petunjuk yang lain, maka penyidik sampai saat ini berkesimpulan bahwa yang bersangkutan diduga kuat bunuh diri,” tegasnya.

Kendati demikian, kata Tubagus, penyidik tetap membuka diri apabila ada informasi lain akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Kami tetap buka diri kalau memang ada informasi dan sebagainya. Tapi fakta yang kami himpun dari olah TKP, dari pemeriksaan saksi, keterangan ahli, dari bukti petunjuk, dan dokumen-dokumen lain, maka kami berkesimpulan diduga kuat yang bersangkutan melakukan bunuh diri,” tandasnya.

Berita terkait: