Mengenang Daniel Dhakidae, Salah Seorang Legenda LP3ES

Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES ) merupakan salah satu lembaga swadaya masyarakat terbesar di Indonesia yang kaya pengalaman dan kompetensi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan penerbitan, penelitian serta pendidikan politik dan sosial ekonomi.

Lembaga ini konsisten menggelar diskusi mengenai kondisi politik, sosial dan ekonomi melalui Forum 100 Ilmuwan Sosial Politik. Namun, berbeda dengan diskusi yang digelar sebelumnya, seri diskusi ke-24 bertema “Mengawal Reformasi Partai Politik: Peluang dan Tantangan” yang digelar secara daring pada Kamis (8/4/2021) diawali dengan berita duka. Daniel Dhakidae pengasuh majalah akademik Prisma yang diterbitkan LP3ES meninggal dunia pada Selasa (6/4/2021) kemarin.

Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Wijayanto mengawali diskusi hari ini ini dengan mengenang almarhum Daniel Dhakidae yang telah menginspirasi LP3ES untuk menggelar sejumlah kegiatan, termasuk forum 100 ilmuwan. Wijayanto menyebut Daniel sebagai salah seorang legenda di LP3ES.

“Doa untuk bang Daniel Dhakidae. Pengasuh Prisma. Salah satu legenda di LP3ES,” kata Wijayanto.

BACA JUGA

Daniel Dhakidae, Intelektual Kritis Sejak Orba Hingga Kini

Sehari sebelum mendengar kabar meninggalnya Daniel, Wijayanto mengaku sempat membaca-baca majalah Prisma edisi lama, termasuk edisi tahun 1978. Dalam volume berjudul “Etos Kerja Bangsa Kita” itu, terdapat sejumlah tokoh yang menyumbang tulisan untuk Prisma, seperti filsuf Franz Magnis Suseno ; pendekar hukum Indonesia Satjipto Rahardjo; dan jurnalis legenda Mochtar Lubis. Foto ketiga tokoh itu masih terlihat sangat muda dan Daniel saat itu telah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Prisma.

“Lalu kemudian yang saya terkejut ketika saya membuka halaman depan, saya menemukan ternyata Dewan Redaksi-nya sudah Daniel Dhakidae. Jadi bang Daniel sudah menjadi Pemred Prisma ini sejak tahun 1978,” tutur Wijayanto.

Dengan demikian, Daniel menjadi tokoh di balik keberhasilan Prisma menjadi majalah akademik legenda Indonesia hingga berhenti terbit pada 1998 dan kembali menjadi Pemred saat Prisma terbit lagi pada 2009 lalu.

“Kita tahu kemudian setelah Reformasi bang Daniel kembali jadi Pemred. Ketika saya masih mahasiswa dulu Prisma adalah suatu legenda. Bisa menenteng majalahnya adalah satu hal yang sangat menjadi kebanggaan,” katanya.

BACA JUGA

Fachry Ali Ungkap Banyak Tokoh di LP3ES

Wijayanto menuturkan, seri diskusi hari ini yang mengangkat tema tentang reformasi partai politik sangat berhubungan erat dengan Daniel. Salah satu pernyataan Daniel yang menyebut demokrasi Indonesia saat ini putar balik ke arah otoriterisme menginspirasi Ketua Dewan Pengurus LP3ES, Didik J Rachbini untuk mencantumkannya dalam Kata Pengantar buku “Outlook Demokrasi LP3ES: Menyelamatkan Demokrasi” yang dipaparkan kepada para peserta Sekolah Demokrasi angkatan pertama pada Februari 2020 lalu.

“Jadi kita menemukan satu frase untuk merangkum apa yang sesungguhnya terjadi,” katanya.

Saat penerbitan buku itu, kata Wijayanto, demokrasi di Indonesia dalam kondisi kritis. DPR dan pemerintah ngotot untuk merevisi UU KPK di tengah aksi unjuk rasa berbagai elemen masyarakat sipil dan mahasiswa di sejumlah daerah.

“Sekolah Demokrasi angkatan satu itu muncul dari kesadaran bahwa dari studi kita, kita melihat situasi demokrasi yang mengalami kemunduran bahkan putar balik ke arah otoriterisme itu tidak mungkin untuk kita benahi tanpa merangkul kawan-kawan partai politik,” kata Wijayanto yang juga Kepala Sekolah Demokrasi LP3ES.

Berita terkait: