Menelusuri Jejak Pelaku Kasus Kematian Yodi Prabowo

Kasus kematian Yodi Prabowo masih gelap. Sepekan lebih jenazah editor Metro TV itu ditemukan terbujur kaku di samping tembok Jalan Tol JORR Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Namun, siapa pelaku pembunuhan masih menjadi misteri.

Polisi terus bekerja untuk membongkar teka-teki dengan menggunakan teori induktif, berangkat dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan deduktif, melalui kemungkinan latar belakang atau motif.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, tim gabungan Polres Metro Jakarta Selatan, Polsek Pesanggrahan dibantu Ditreskrimum Polda Metro Jaya, mengawali penelusuran jejak pelaku dengan mengumpulkan bukti dan petunjuk di lapangan. Kemudian, memeriksa saksi yang hingga kini sudah berjumlah 29 orang dari keluarga, teman dekat, teman kantor, hingga saksi di sekitar lokasi.

Sidik jari pelaku dicari di sejumlah barang bukti seperti pisau dapur dan pakaian korban. Sementara handphone Yodi dibuka dan dianalisa tim digital forensik, termasuk rekaman kamera pengawas alias CCTV yang buram di lokasi. “Kita masih menunggu, mudah-mudahan secepatnya ini hasil labfor khususnya sidik jari di pisau,” ujar Yusri, Sabtu kemarin (18/7/2020).

Yusri menuturkan, jenazah korban sudah meninggal sekitar dua hingga tiga hari sebelum ditemukan. “Makanya ini ada kesulitan sehingga Labfor terus mencari, tapi insyaallah ada titik terang untuk sidik jarinya. Untuk handphonenya memang barang pribadi milik korban ini tak ada yang hilang baik dompet, handphone , bahkan motor korban tak hilang. Handphone masih kita buka semua isinya seperti apa,” ungkapnya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Irwan Santoso mengatakan, penyidik menelusuri jejak pelaku melalui barang korban yang ditemukan dengan menguji secara forensik.

“Yang kita tunggu adalah barang-barang korban, apakah ada jejak-jejak dari pelaku yang melekat terhadap barang-barang itu. Sekarang yang sedang dilakukan uji secara forensik di laboratorium. Itu yang sedang ditunggu-tunggu, makanya kami tetap terus bekerja, tidak berhenti sehingga kami bisa menyimpulkan pada akhirnya,” katanya.

Irwan mengungkapkan, tim penyidik juga telah mengambil sejumlah rekaman CCTV, di sekitar lokasi. Sementara, rekaman itu sedang proses uji laboratorium.

“CCTV ada banyak. Setiap jalan, kami ambil, kami proses. Semoga ada jejak di sana. Gambaran CCTV itu tidak jelas, karena tidak jelas kami minta bantuan laboratorium dengan alat khusus sehingga mempermudah kita melihat. Seperti apa mungkin jenis mobilnya, pelat nomornya, dan lain sebagainya. Kalau kami di TKP, informasi terakhir itu sudah terhapus karena sudah tertimpa. Yang sangat dekat dengan TKP itu sudah terhapus, tapi kita berupaya mencari agar terang perkara ini,” katanya.

Irwan menambahkan, pemeriksaan telepon genggam korban juga masih dalam proses. Termasuk, pencarian sidik jari di pisau dapur yang ditemukan di lokasi. “Mudah-mudahan ada titik terang, ada petunjuk di situ. Ada jejak, mungkin ada komunikasi terakhir dengan siapa. Mudah-mudahan ada hasilnya. Itu yang kita tunggu-tunggu hasilnya,” jelasnya.

Menyoal apakah ada temuan baru dalam proses penyelidikan, Irwan menyampaikan, penyidik terus mengumpulkan temuan-temuan baru di lapangan. Namun, tidak bisa disampaikan karena dapat mempengaruhi proses penyelidikan dan penyidikan.

“Jadi karakteristik perkara itu ada yang mudah, ada yang sulit, ada yang sedang. Kita belum tahu karena ini masih seminggu. Mudah-mudahan ada hasil. Mohon doanya dari teman-teman seperti apa nantinya. Jadi tim gabungan ini tetap berjalan,” ucapnya.

Selain menelusuri melalui barang bukti, penyidik juga menyelidiki dari kemungkinan latar belakang atau motif. Semisal ada informasi dugaan orang ketiga dalam hubungan percintaan korban, dugaan hubungan sesama jenis, dugaan jual-beli barang dengan bertemu langsung (COD), dan lainnya.

“Motif banyak. Kadang kita ke motif yang ini tiba-tiba kurang buktinya, mundur lagi ke motif yang lain. Jadi kita seperti (susun) puzzle kerjanya. Kami belum bisa simpulkan secara tegas. Jadi motif-motif semua kita ambil, kemudian kita rangkaikan dengan temuan-temuan,” katanya.

Minta Keterangan Pacar Korban
Menyoal dugaan orang ketiga, penyidik sudah memeriksa pacar korban bernama Suci Fitri sekitar dua kali. Namun, ada beberapa keterangan yang disampaikan diduga tidak sesuai.

“Ada beberapa hal yang sifatnya mungkin bohong. Tapi kami masih mencocokkan dengan beberapa bukti. Kami menilai itu keterangannya tidak sesuailah. Artinya beberapa keterangan itu kan kita mengerucut ke pelaku, ada hal-hal yang sifatnya dari pihak saksi atau kerabat korban itu tidak sesuai,” katanya.

Irwan menambahkan, penyidik juga sedang mendalami keterangan sejumlah saksi, termasuk pemilik warung dan warga di sekitar lokasi. Berdasarkan pemeriksaan korban memang pernah datang ke sekitar lokasi. Namun penyidik belum bisa memastikan apakah korban dibunuh di lokasi penemuan, atau dibuang di sana.

“Kami pun menduga begitu. Tapi kami sedang mencari. Kami tak bisa memastikan apakah dibunuh di lokasi atau dibunuh di tempat lain,” katanya.

Menurut Irwan, polisi mencatat semua kemungkinan atau dugaan yang terjadi, kemudian disinkronkan dengan bukti petunjuk dan keterangan saksi. Semisal pelaku diduga lebih dari satu orang, dugaan jenazah korban dibuang dari tol, sepeda motor sempat dibawa pelaku, dan sebagainya.

“Sampai saat ini kami sedang mencari itu. Semua dugaan-dugaan itu tetap kita proses, kita ambil keterangan. Pemeriksaan-pemeriksaan itu adalah pemeriksaan awal. Terus terang yang disampaikan ke rekan-rekan ini belum final. Bisa dua, tiga, empat, lima kali sampai kita bisa mensinkronkan antara temuan-temuan yang lain dengan keterangan,” sebutnya.

Irwan menambahkan, terakhir penyidik Polda Metro Jaya menemukan rambut di sekitar lokasi jenazah korban. Saat ini, penyidik sedang memeriksa rambut itu di Puslabfor Polri. “Apakah rambut korban atau pelaku kita belum tahu. Jadi semua temuan-temuan kita serahkan ke labolatorium. Kita tak boleh menduga-duga, atau mungkin (rambut) penyidik waktu itu kita nggak tahu. Karena waktu itu sudah olah TKP,” jelasnya.

Sementara itu, Irwan menyampaikan, korban diduga meninggal dunia sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Dia diduga ditusuk pakai pisau dengan kondisi pakaian lengkap karena jaket dan bajunya robek. “Bajunya bolong dan jaketnya juga bolong. Dugaannya begitu (ditusuk masih pakai jaket). Ketusuk, kalau nggak salah dua,” katanya.

Irwan menegaskan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana meminta agar penyidik memberikan atensi khusus untuk segera mengungkap kasus ini.

“Kami minta bantuan dari teman-teman media karena punya akses informasi selain kami. Kedua kami mengimbau masyarakat sekiranya mungkin pada saat kejadian mengetahui kejadiannya, melapor ke Polres dan Polda,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Yodi Prabowo yang berprofesi sebagai Editor Metro TV ditemukan meninggal dunia, di samping tembok Jalan Tol JORR, Jalan Raya Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 11.45 WIB, Jumat (10/7/2020) lalu. Korban ditemukan dalam kondisi telungkup, masih mengenakan helm sepeda motor, jaket hijau, celana panjang warna hitam, tas, dan sepatu.

Dugaan sementara, Yodi merupakan korban pembunuhan. Polisi menemukan sebilah pisau dapur, diduga alat yang digunakan pelaku untuk menusuk leher dan dada korban di lokasi.

Berita terkait: