Mendagri: Birokrat Tidak Boleh Buat Keputusan Berdasarkan Insting

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta para birokrat yang berada di instansi pemerintahan agar tidak membuat keputusan berdasarkan insting atau perasaan, apalagi mistik. Para pembuat kebijakan atau birokrat harus membuat kebijakan berdasarkan data-data scientific dan berdasarkan teori.

“Supaya tidak untung-untungan hasilnya tetapi membuat kebijakan yang kuat berdasarkan penelitian sebelumnya,” kata Tito saat memberikan pengarahan dalam Wisuda IPDN Tahun 2020 di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (28/7/2020).

Ia mengutip kalimat seorang ilmuan bernama Joseph Stiglitz yang menyebutkan “ If theory without policy is for academic, and policy without academic is for gamblers. ” Artinya berteori saja tanpa diitindaklanjuti dengan membuat kebijakan, itu adalah untuk para akademik, sementara membuat kebijakan tanpa didasari teori adalah untung-untungan atau gamblers .

“Seorang birokrat yang menjadi motor penggerak pemerintahan harus menjadi seorang ilmuan atau scientist . Sehingga, kebijakan yang dihasilkan, telah melalui serangkaian penelitian dan pola pikir ilmiah,” tutur mantan Kapolri ini.

Mendagri menjelaskan, sebagai pemimpin yang kuat, dibutuhkan 3 faktor penting. Pertama, power dan kewenangan yang diatur dalam Undang-Undang maupun aturan lainnya. Kedua, memiliki followers atau pengikut berupa staf yang loyal dan pekerja. Ketiga, memiliki konsep yang didapat melalui ilmu pengetahuan.

” Power atau kewenangan, dan memiliki pengikut atau staf nantinya, itu saja tidak cukup, tapi juga harus memiliki konsep. Konsep hanya bisa didapatkan dengan melalui knowledge atau pengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui jalur formal atau informal, apalagi didasari dengan keilmuan yang kuat,” tuturnya.

Dengan konsep yang kuat yang berasal dari ilmu pengetahuan, diharapkan pemimpin mampu membawa organisasi ke arah yang lebih jelas. Terutama dalam mencapai tujuan dengan menggunakan strategi yang telah dipikirkan secara matang.

“ Strong leader di samping memiliki kewenangan, pengikut, mampu membawa pengikutnya dengan konsep dan strategi yang kuat untuk membawa organisasinya mencapai tujuan. Tanpa konsep yang kuat, tanpa strategi, maka anak buah akan bingung, mau dibawa ke mana organisasi yang dipimpin,” tutup Tito. 

Berita terkait: