Membaik, Rp 1 Triliun Investasi di 2020 Mampu Serap 1.438 Tenaga Kerja

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani mengatakan, peningkatan tren investasi mulai memberikan dampak pada penyerapan kualitas tenaga kerja. Korelasi antara investasi dan penyerapan tenaga kerja mulai membaik sejak kuartal I tahun lalu.

Pihaknya mencatat adanya investasi Rp210,7 triliun mampu menyerap 303.000 tenaga kerja. Ini menunjukkan per Rp1 triliun investasi mampu menyerap tenaga kerja mencapai 1.438 orang.

Pada kuartal II 2020, terdapat Rp191,9 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja 263.000 orang sehingga investasi per Rp1 triliun menyerap tenaga kerja sebanyak 1.371 orang.

“Kita punya rasa optimisme terkait 2021 karena tren dari investasi yang masuk itu sudah mulai menunjukkan korelasi dengan kualitas penyerapan tenaga kerjanya,” kata Ketua Umum Apindo, Haryadi Sukamdani, seperti dikutip dari Antara dalam webinar Indonesia Macroeconomic Update 2021 di Jakarta , Kamis (8/4).

Hariyadi menceritakan, kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja sempat terus mengalami penurunan. Pada 2013 investasi sebesar Rp398,3 triliun mampu menyerap 1,82 juta tenaga yang berarti investasi per Rp1 triliun mampu menyerap 4.594 tenaga kerja.

Namun pada 2014, investasi Rp463 triliun hanya mampu menyerap tenaga kerja 1,43 juta orang sehingga per Rp1 triliun investasi hanya dapat menyerap 3.090 orang.

Kemudian pada 2019 investasi sebesar Rp809,6 triliun hanya mampu menyerap 1,33 juta tenaga kerja sehingga per Rp1 triliun investasi hanya dapat menyerap 1.277 orang.

“Jadi yang tadi menyusut ini kelihatannya pada 2020 sudah rebound,” ujar Haryadi.

Investasi Disarankan Fokus ke Padat Karya

fokus ke padat karya

Menurutnya, efektivitas investasi terhadap penyerapan tenaga kerja akan lebih maksimal jika investasi difokuskan pada bidang padat karya.

Tak hanya itu, dia mengatakan tidak semua sektor harus dilakukan otomatisasi dengan teknologi tinggi seperti kelautan, perikanan, pertanian, dan produsen barang-barang rumah tangga yang masih bisa menggunakan tenaga kerja manusia.

“Misalnya produksi bulu mata extension itu masih ada potensi yang bisa diarahkan ke sana (menggunakan tenaga kerja),” ujarnya.

Dia melanjutkan masih banyak juga sektor-sektor yang bisa lebih dioptimalkan seperti produksi susu, kedelai, peternakan, dan perkebunan.

“Susu 80 persen masih impor, kedelai 90 persen masih impor, jagung, bidang peternakan dan perkebunan masih bisa digerakkan. Programnya harus targeted,” tutupnya.

Baca juga:
China Minat Investasi Baterai Mobil Listrik USD 5 M, RI Bisa jadi Pemain Kelas Dunia
Dibanding Indonesia, Investor Lebih Tertarik Bangun Kilang di Singapura
Said Didu Bongkar Penyebab Aramco Tak jadi Bangun Kilang di Indonesia
Sederet Manfaat Kehadiran Daftar Positif Investasi Indonesia
Per Maret, 84 Wajib Pajak Raih Tax Holiday Senilai Rp 1.263 T
Konsumsi dan Investasi Tertahan, Ekonomi RI Disebut Terjebak di Lingkaran Setan
Menteri Sri Mulyani Ungkap Penyebab Kemudahan Berusaha RI Stagnan 3 Tahun ke Belakang

Berita terkait: