Mayoritas Perusahaan di Indonesia Makin Peduli Keamanan Siber

Mayoritas perusahaan yang beroperasi di Indonesia semakin peduli dengan keamanan siber mereka. Hal ini tercermin dari survei yang dilakukan Palo Alto Networks (PANW) mengenai prilaku dunia bisnis di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Singapura, Filipina, dan Thailand, terhadap keamanan siber.

Dari survei yang dilakukan, Palo Alto menemukan dari 100 responden di Indonesia, empat dari lima perusahaan di Indonesia, atau 84%, meningkatkan anggaran untuk keamanan siber pada 2020. Persentase tersebut menjadi yang terbesar di antara negara-negara lain yang disurvei. Dari 84% perusahaan yang menyatakan meningkatkan anggaran untuk keamanan siber, hampir separuh atau tepatnya 44% perusahaan menyatakan mengalokasikan setengah anggaran teknologi informasi mereka untuk keamanan siber.

Langkah ini dilakukan lantaran 71% responden melihat serangan siber yang semakin canggih, 70 persen perusahaan mengatakan jumlah serangan siber meningkat dan 69 persen merasa perlu meningkatkan kapasitas keamanan mereka, termasuk misalnya menggunakan otomasi.

‚ÄúSangat antusias melihat makin tingginya kesadaran perusahaan-perusahaan di Indonesia terhadap keamanan siber. Mereka makin sadar pentingnya mencegah dan menggagalkan serangan siber yang berpotensi mengganggu bisnis, seperti yang telah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir,” kata Country Manager Palo Alto Networks Indonesia, Surung Sinamo dalam konferensi pers melalui daring, Rabu (15/7/2020).

Survei ini melibatkan 400 responden yang merupakan jajaran manajemen perusahaan dan memiliki peran terkait dengan teknologi informasi di Indonesia, Filipina, Thailand dan Singapura. Survei dilakukan secara daring pada 6 Februari hingga 15 Februari 2020 atau sebelum virus corona (Covid-19) ditetapkan sebagai pandemi global. Meski demikian, Palo Alto menilai temuan dari survei tersebut masih relevan dengan kondisi pandemi saat ini karena semakin banyak pekerjaan yang dikerjakan secara virtual.

“Sehubungan dengan terjadinya pandemi Covid-19 , saat ini bisnis perlu untuk menavigasi risiko-risiko baru yang ditemukan akibat kerja jarak jauh atau munculnya ancaman-ancaman baru yang memanfaatkan situasi COVID-19,” kata Surung.

Sebanyak 76% responden menilai peranti-peranti dasar seperti anti-malware dan antivirus sebagai solusi dalam keamanan siber. Perilaku ini didorong oleh sangat kuatnya persepsi yang terbangun di Indonesia tentang seputar bahayanya malware . Namun, prioritas keamana siber beralih ke arah pengamanan deployment cloud . Terdapat 61% perusahaaan yang berinvestasi pada pada keamanan siber berbasis cloud . Sebanyak 56% perusahaan di Indonesia menggunakan keamanan software-defined wide area network dan 51% pada firewall.

Kesadaran akan keamanan siber juga ditunjukkan oleh mayoritas perusahaan di Indonesia, yakni 92% perusahaan dengan meninjau ulang kebijakan keamanan siber dan prosedur operasi standar mereka setidaknya sekali dalam setahun. Sebanyak 92% perusahaan di Indonesia mengaku memiliki kewajiban untuk melaporkan serangan siber yang dialami.

“Sebagian besar perusahaan (83%) juga melakukan pemeriksaan terhadap komputer-komputer setidaknya sekali dalam sebulan untuk memastikan peranti lunak pada komputer-komputer tersebut masih up to date,” katanya.

Meski meningkatkan investasi, sebanyak 44% perusahaan merasa kurang yakin dengan keamanan siber mereka. Kurangnya kepercayaan menandakan masih adanya permasalahan lain yang harus mendapatkan perhatian dari organisasi seperti faktor manusia atau Sumber Data Manusia (SDM). Dua dari tiga tantangan utama keamanan siber besar berkaitan dengan faktor manusia atau orang, yaitu kesadaran karyawan sebanyak 54% dan pemahaman dari manajemen sebanyak 40%.

Selain itu, 42% mengatakan masalah keamanan bisa juga berasal dari mitra bisnis, rantai pasokan atau penyedia layanan ketiga.

Dikatakan Surung, perusahaan-perusahaan di Indonesia tengah dihadapkan pada jenis-jenis serangan siber baru sepanjang tahun. Meskipun sadar akan arti pentingnya penerapan keamanan di lingkungan siber dasar, Surung menilai edukasi tentang keamanan siber saja belumlah mencukupi.

“Perangkat-perangkat untuk keamanan siber yang mendayagunakan otomatisasi dan machine learning telah menjadi instrumen untuk melakukan tindakan preventif serta mempercepat respons terhadap ancaman-ancaman siber, baik yang known maupun unknown , yang dihadapi bisnis setiap harinya. Hal ini sangat penting terutama bagi Indonesia, rumah bagi populasi terbesar pengguna internet di dunia, dengan lanskap e-commerce dan pembayaran digital yang berkembang pesat,” paparnya.

Berita terkait: