Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis

Jakarta – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Percha Leanpuri menjelaskan literasi bukan sekadar membaca dan menulis melainkan memahami apa yang dibaca dan didengar untuk menjadi dasar dalam memecahkan masalah sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

“Literasi juga ditransformasikan dengan kegiatan-kegiatan yang produktif. Kita sekarang bukan hanya hadir memberikan bahan bacaan tapi juga memberikan kemampuan pada masyarakat,” ujar Percha dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat.

Dia menambahkan seorang ibu bisa memainkan perannya sebagai duta literasi keluarga. Misal dirinya yang juga seorang ibu berusaha menanamkan kegemaran membaca kepada buah hatinya. Maka, ia mendorong para ibu untuk meningkatkan perannya di tengah gempuran teknologi dan menariknya gawai.

Baca juga: Pemprov Sumsel hadirkan pojok baca digital di Bandara SMB II Palembang

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tinggal bagaimana ibu memilih dan memilah. Seorang ibu harus tahu bagaimana menyeting konten-konten yang tidak seharusnya ditonton oleh anak-anak. Jadi, perhatian dari duta literasi keluarga sangat menunjang bagi generasi muda,” kata Duta Literasi Sumatera Selatan itu.

Selama menjalankan tugas sebagai duta literasi, dia sudah menyambangi 17 kabupaten/kota di Sumsel. Dia melihat, semangat untuk membaca masyarakat sangat tinggi. Percha berharap adanya dukungan dari DPRD Sumsel dan Perpusnas untuk membangun gedung perpustakaan yang baru dan modern.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional, Deni Kurniadi, mengatakan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta. Namun, jumlah bacaan yang beredar yang dimiliki perpustakaan umum di Indonesia hanya 22.318.083 eksemplar. Rasio buku dengan jumlah penduduk adalah 0,098. yang mana masih sangat jauh dari ideal.

“Ini adalah tugas bersama untuk pembudayaan kegemaran membaca pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat,” kata Deni.

Baca juga: Hari Penyiaran Nasional, KPI harap literasi digital masuk kurikulum

Untuk mengejar kondisi yang ideal, Perpusnas terus berupaya menjalin sinergi dengan para pemangku kepentingan untuk menguatkan sisi hulu literasi. Penguatan sisi hulu literasi harus dilakukan agar sisi hilir literasi yakni budaya baca dan indeks literasi mengalami peningkatan.

Penguatan pada sisi hulu melibatkan peran negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI/Polri), pengarang/penulis buku, penerbit/perusahaan rekaman, dan penerjemah/penyadur sangat dibutuhkan untuk menjamin terbitnya regulasi yang mengatur distribusi bahan bacaan untuk memperkecil ketimpangan antarwilayah serta tersedianya anggaran belanja buku di setiap daerah.

Untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, Perpusnas menyediakan layanan daring yang bisa diakses setiap saat dan gratis, di nya perpustakaan digital iPusnas, laman jurnal elektronik di e-Resources, serta laman yang berisikan naskah kuno Nus, yakni Khastara. Selain itu juga, menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Sebelumnya, Perpusnas menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah. Terbaru, Perpusnas menggandeng Pemerintah Provinsi Sumsel dan 17 perguruan tinggi di Sumsel, dinya Universitas Katolik Musi Charitas dan Universitas Baturaja.***3***

Baca juga: Puan tekankan urgensi kuatkan ketahanan keluarga cegah radikalisme
Baca juga: Ketua DPD RI dorong literasi digital cegah konten medsos tak mendidik
Baca juga: Kominfo terus gencarkan literasi digital untuk lawan hoaks

Berita terkait: