Lawan Tradisi Jepang, Bos Uniqlo Ingin Angkat Perempuan jadi Penggantinya

Pemimpin Operasional Perusahaan Ritel Mode Uniqlo, Maki Akaida menjadi kandidat CEO Uniqlo Jepang yang baru. Dia dipilih oleh Tadashi Yanai yang merupakan miliuner pendiri dan CEO Fast Retailing Co, induk usaha ritel mode Uniqlo sekaligus orang terkaya di Jepang.

Jika Akaida mengambil alih Fast Retailing, dia akan bergabung dengan beberapa wanita yang menjalankan perusahaan bernilai miliaran dolar di Jepang, termasuk Yoshiko Shinohara dari staf sementara Persol Holdings dan Miwako Date di pengembang properti Mori Trust.

Dilansir dari Forbes, Jepang telah berjuang melawan tradisi yang mengakar untuk memasukkan lebih banyak perempuan ke dalam angkatan kerja, terutama di jabatan lebih tinggi. Pemerintah Jepang juga ingin mengisi 30 persen pekerjaan manajemen dan eksekutif dengan perempuan pada akhir tahun.

Fast Retailing, yang memiliki penjualan hampir USD 22 miliar atau Rp326,6 triliun pada tahun fiskal terakhirnya, telah melawan tren dengan secara aktif mempromosikan wanita. Hampir 40 persen manajer Fast Retailing adalah perempuan dan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional.

Perusahaan juga memiliki tujuan untuk meningkatkan angka tersebut menjadi 50 persen dengan mendukung pengembangan karir staf perempuannya melalui langkah-langkah seperti penitipan di kantor dan cuti berbayar untuk pengasuhan lansia.

Potensi Wanita di Jepang

di jepang

Akaida telah berada di garis depan dalam upaya itu. Dia memenangkan promosi menjadi manajer toko hanya enam bulan setelah bergabung dengan Fast Retailing. Dia kemudian menjalankan gerai utama Uniqlo di Shanghai dan Tokyo, serta departemen sumber daya manusia Fast Retailing dan hubungan masyarakat Uniqlo Jepang.

“Yang ingin saya sampaikan kepada para wanita adalah sadarilah sejak dini bahwa Anda memiliki potensi yang jauh lebih tinggi daripada yang Anda pikirkan,” kata Akaida

Di awal 2019, Fast Retailing, yang memiliki lebih dari 3.600 toko, mempromosikan Akaida menjadi pejabat eksekutif group. Pada bulan Juni tahun itu, dia diangkat menjadi CEO Uniqlo Jepang.

Media dengan cepat menyematkan label pewaris pada Akaida. Yanai memicu spekulasi bahwa menurutnya seorang wanita akan lebih baik untuk mengambil alih posisinya dan mengakui Akaida sebagai calon penerus.

“Pekerjaan ini lebih cocok untuk seorang wanita, karena ketekunan, berorientasi pada detail dan memiliki rasa estetika,” kata Yanai

Reporter Magang : Brigitta Belia

[idr]

Baca Selanjutnya: Potensi Wanita di Jepang…

Halaman

  • 1
  • 2