Laba Bersih Indo Tambangraya Megah Turun 69,5%

— PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada akhir tahun lalu sebesar US$ 39,46 juta atau setara Rp 555,98 miliar.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Rabu (24/2/2021), laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan menurun 69,51% dibandingkan dengan periode 31 Desember 2019 yang mencatatkan sejumlah US$ 129,42 juta. Pendapatan perseroan juga turun 30,99% menjadi US$ 1,18 miliar dari periode sama pada tahun 2019 sebesar US$ 1,71 miliar.

Penurunan pendapatan tersebut diperoleh dari segmen usaha batu bara untuk pihak ketiga yang memperoleh US$ 1,07 miliar dan pihak berelasi US$ 54,82 juta. Kemudian segmen bahan bakar untuk pihak ketiga sebesar US$ 49,14 juta dan segmen jasa untuk pihak ketiga sejumlah US$ 2,71 juta.

Lebih lanjut, beban pokok pendapatan diperoleh sebesar US$ 986,18 juta atau turun 0,28% dari periode 31 Desember 2019 yang mencatatkan sejumlah US$ 1,38 miliar. Laba kotor perseroan juga menurun 39,03% menjadi US$ 199,15 juta dari sebelumnya US$ 326,68 juta.

Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan hingga akhir tahun 2020 tercatat sebesar US$ 72,55 juta, menurun 60,97% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang membukukan US$ 185,90 juta.

Secara total aset, perseroan per 31 Desember 2020 meraih sebesar US$ 1,15 miliar, mengalami penurunan 4,16% dari 31 Desember 2019 yakni US$ 1,20 miliar. Sedangkan total liabilitas sebesar US$ 312,33 juta, turun 3,77% dari semula US$ 324,57 juta dan total ekuitas turun 4,31% menjadi US$ 846,29 juta dari sebelumnya US$ 884,46 juta.

BACA JUGA

ITMG Miliki Fasilitas Microgrid Terbesar di Indonesia

Sebelumnya, perseroan pada tahun ini berencana fokus memperluas pasar ke negara berkembang. Perseroan juga akan mengkaji proyek hilirisasi sebagai bentuk diversifikasi bisnis.

Direktur Hubungan Investor Indo Tambangraya Megah Yulius Gozali menjelaskan, langkah ini sejalan dengan pertumbuhan permintaan batu bara yang terus meningkat di pasar ASEAN dan Asia Pasifik. Seperti diketahui, sumber volume penjualan terbesar perseroan berasal dari Tiongkok yang digunakan untuk pembangkit energi.

“Meski demikian, rencana tersebut akan kami lakukan sembari menjaga pasar eksisting kami, seperti Tiongkok, Jepang, dan India,” ujar dia kepada Investor Daily.

Yulius menambahkan, selain perluasan pasar, saat ini perseroan tengah mengkaji kelayakan beberapa proyek hilirisasi sebagai upaya diversifikasi bisnis. Rencana ini menjadi peluang perseroan untuk menambah margin pendapatan di sepanjang rantai nilai energi. “Mengenai target pendapatan dan laba bersih pada akhir tahun 2021 nanti akan bergantung harga batu bara yang berfluktuasi,” jelasnya.

Adapun untuk memuluskan rencana tersebut, Indo Tambangraya Megah akan menganggarkan belanja modal yang bersumber dari kas internal. Namun, perseroan belum dapat memberikan angka pasti lantaran dalam tahap finalisasi. “Hal yang sama juga sedang kami lakukan pada target produksi batu bara tahun ini,” tutur dia.

Berita terkait: