Kronologi OTT Nurdin Abdullah

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah bersama Sekretaris Dinas PUPR, Edy Rahmat dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel Tahun Anggaran 2020-2021.

Penetapan tersangka terhadap ketiganya dilakukan KPK melalui gelar perkara usai memeriksa intensif enam orang yang diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di daerah Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Jumat (26/2/2021). Keenam orang yang diamankan tersebut yakni, Nurdin Abdullah, Edy Rahmat, dan Agung Sucipto. Kemudian diamankan juga sopir Agung berinisial NY; Ajudan Nurdin, Samsul Bahri serta Sopir sekaligus keluarga Edy berinisial IF.

“Tim KPK telah mengamankan enam orang di tiga tempat yang berbeda Sulawesi Selatan yaitu, rumah dinaa ER di kawasan Hertasening, Jalan Poros Bulukumba, dan rumah jabatan gubernur Sulsel,” kata Ketua KPK, Firli Bahuri dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Minggu (28/2/2021), dini hari.

Firli membeberkan, OTT tersebut berawal saat tim KPK menerima informasi dari masyarakat mengenai akan adanya dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara yang diberikan oleh Agung Sucipto kepada Nurdin Abdullah melalui perantaraan Edy Rahmat, pada Jumat 26 Februari 2021.

Atas informasi tersebut, sekitar pukul 20.24 WIB, Agung bersama salah satu keluarga Edy berinisial IF menuju ke salah satu rumah makan di daerah Makassar. Setibanya di rumah makan tersebut, telah ada Edy Rahmat yang menunggu.

“Dengan beriringan mobil, IF mengemudikan mobil milik ER (Edy Rahmat) sedangkan AS (Agung Sucipto) dan ER bersama dalam satu mobil milik AS menuju ke Jalan Hasanuddin, Makassar,” beber Firli.

BACA JUGA

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Bantah Terlibat Suap

Dalam perjalanan tersebut, Agung Sucipto menyerahkan proposal terkait beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan tahun anggaran 2021 kepada Edy Rahmat. Tak berselang lama, mereka berhenti dan IF kemudian mengambil koper yang diduga berisi uang dari mobil milik Agung.

“Sekitar pukul 21.00 WIB, IF kemudian mengambil koper yang diduga berisi uang dari dalam mobil milik AS dipindahkan ke bagasi mobil milik ER di Jalan Hasanuddin,” jelasnya

Selanjutnya, sekitar pukul 23.00 WITA, Tim Satgas KPK mengamankan Agung saat dalam perjalanan menuju ke Bulukumba. Kemudian sekitar pukul 00.00 WITA, Edy Rahmat beserta uang dalam koper sejumlah sejumlah Rp 2 miliar turut diamankan di rumah dinasnya.

“Pada sekitar Pukul 02.00 WITA, NA juga diamankan di rumah jabatan dinas Gubernur Sulsel,” tutur Firli.

Setelah mengantongi bukti dan keterangan saksi, KPK menetapkan Nurdin Abdullah bersama Edy dan Agung sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan serta pembangunan infrastruktur di Sulawesi Selatan tahun anggaran 2020-2021.

“Berdasarkan keterangan para saksi dan bukti yang cukup, maka KPK berkeyakinan bahwa tersangka dalam perkara ini sebanyak tiga orang. Pertama penerima yaitu saudara NA (Nurdin Abdullah) dan saudara ER (Edy Rahmat). Sedangkan aebagai pemberi adalah saudara AS (Agung Sucipto),” kata Firli

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya Nurdin dan Edy disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor, Juncto Pasal 55 ayat ke (1) KUHP. Sedangkan Agung yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

BACA JUGA

Nurdin Abdullah Mengaku Sedang Tidur Ketika Ditangkap KPK

Berita terkait: