Koperasi Paguyuban Pasundan Harus Jadi Rumah Besar UMKM

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan, mengatakan, cara untuk membangun skala usaha dan meningkatkan daya saing produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) adalah dengan berkoperasi.

“Kita harus mendorong Koperasi Paguyuban Pasundan di Cianjur menjadi Rumah Besar bagi seluruh produk UMKM,” tandas Rully, saat berkunjung ke Koperasi Paguyuban Pasundan, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (16/10) sebagaimana dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/10/2020).

Di acara yang juga dihadiri Ketua Paguyuban Pasundan Abah Ruskawan, Rully meyakini hal itu karena di Cianjur banyak produk yang dihasilkan UMKM, termasuk industri rumahan yang dikerjakan komunitas perempuan.

“Jika pelaku usaha jalan sendiri-sendiri, usahanya tidak akan efisien. Dengan bergabung dalam wadah koperasi akan tercipta efisiensi yang lebih baik. Dari mulai efisien biaya produksi, promosi, hingga pengadaan bahan baku,” jelas Rully.

Artinya, lanjut Rully, para pelaku UMKM bisa fokus dalam produksi, termasuk meningkatkan kualitas produk. Sementara urusan pemasaran akan dilakukan koperasi. “Ini yang dinamakan sharing economy atau ekonomi kolaborasi,” tukas Rully.

Oleh karena itu, Rully juga mendorong Koperasi Paguyuban Pasundan untuk berbasis digital, termasuk dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan para anggotanya. “Koperasi dan UMKM harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ini saatnya untuk memasuki ekosistem digital. Harus segera membuat aplikasi marketplace atau e-commerce yang menjual produk-produk UMKM Cianjur,” papar Rully.

Penerima Banpres

Dalam kesempatan yang sama, Rully berbincang dengan tiga penerima Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) asal Cianjur, yang juga merupakan anggota Koperasi Paguyuban Pasundan. Ketiganya mendapat bantuan modal sebesar Rp 2,4 juta.

Ketiga penerima BPUM itu adalah Nati, pelaku UMK makanan ringan; Larasiti Lestari, perajin hasil bumi gula aren;, dan Reni Nuraeni, perajin handicraft.

Bagi Nati, bantuan modal tersebut akan digunakan untuk menambah stok bahan baku yakni tepung tapioka dan minyak goreng. “Dengan begitu, produksi keripik dan kerupuk bisa terus berjalan,” kata Nati yang berasal dari Cikalong Kulon, Cianjur.

Pemasaran produk Nati dengan merek Meira Snack sudah dilakukan dengan cara online . “Pemasaran sudah masuk ke Jakarta dan Sumedang,” kata Nati.

Sementara Reni memproduksi kerajinan rajut berupa tas, souvenir, dan sebagainya. “Bantuan Presiden sebesar Rp2,4 juta itu saya pergunakan untuk modal membeli bahan. Dan dari perputaran uang itu, akan saya belikan mesin jahit,” ucap Reni.

Dengan pemasaran online, produk hasil rajutan Reni sudah menembus Bogor dan Tangerang. “Banpres ini sangat bermanfaat bagi saya dan pelaku usaha mikro lainnya,” aku Reni.

Sedangkan bagi Larasiti, Banpres digunakan untuk memperkuat bahan baku pembuatan gula aren. “Gula aren saya bentuk seperti uang koin. Jadi, orang mengenalnya sebagai gula koin,” kata Larasiti.

Dengan tersedianya bahan baku, aku Larasiti, produksinya bisa berjalan kontinu. “Pemasaran gula aren koin masih sebatas wilayah Cianjur saja. Ke depan, saya akan masuk ke pasar online juga,” pungkas Larasiti.

Berita terkait: