Konsep Blended Learning, Strategi Terbaik untuk Pembelajaran Jarak Jauh di Pelosok

Terkendala akan kuota internet dan kepemilikan gawai maupun laptop, siswa pun sulit untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang digelar selama pandemi. Untuk itu, banyak guru dan kepala sekolah yang melakukan sejumlah strategi agar anak didiknya tetap dapat belajar.

Salah satunya adalah Kepala Sekolah SMPN 1 Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Solirus Soda. Ia mengaku terus berusaha melakukan sejumlah strategi agar anak didiknya tetap dapat belajar. Sebab, meski sekolah yang dipimpinnya berada di zona hijau, tetapi kegiatan belajar (KBM) tidak serta merta kembali efektif pada pada masa pandemi ini. Pihaknya melakukan sejumlah perubahan agar mendapat izin dari pemerintah daerah (pemda) serta dari orang tua siswa.

Di antara strategi yang dilakukan Solirus adalah membuat kesepakatan bersama antara orang tua siswa dan sekolah untuk menerapkan skema blended learning atau campuran antara PJJ daring dan luring yang lebih terkonsep pada tahun ajaran baru 2020/2021.

Solirus menuturkan, untuk belajar luring, peserta didik kembali ke sekolah. Mereka kembali bertatap muka dengan guru dengan pembiasaan baru. Ketika berada di lingkungan sekolah, para siswa harus menggunakan protokol kesehatan seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan di air mengalir, dan mengecek suhu tubuh maksimal 37,5 derajat Celcius.

Selain itu, siswa berada di sekolah hanya dua kali dalam seminggu dengan waktu 2×45 menit pada setiap pertemuan tanpa ada waktu istirahat.

“Sekolah kembali dibuka dengan terbatas dalam jumlah dan waktu karena para siswa tidak semuanya masuk sekolah saat bersamaan. Sekolah dibagi menjadi tiga sesi setiap hari. Jadi satu minggu itu, tatap muka dengan siswa hanya dua kali untuk masing-masing kelas,” kata Solirus kepada Suara Pembaruan, Rabu (22/7/2020).

Meski siswa akan kembali ke sekolah besok, Kamis (23/7/2020), ia mengaku tidak dapat memaksimalkan kurikulum pendidikan. Kehadiran siswa kata dia, hanya untuk mendapatkan penguatan materi baru. Sebab, ketika siswa belajar dari rumah (BDR), mereka mendapat tugas terstruktur dari sekolah yang dikerjakan selama dua hari dan akan dibahas bersama pada pertemuan berikutnya.

Kegiatan BDR diperkuat melalui video pembelajaran dan bimbingan lanjutannya dari guru melalui grup Whatsapp kelas. Dengan begitu, guru tidak melakukan kunjungan langsung ke rumah siswa karena harus tetap berada di sekolah untuk mengisi setiap sesi KBM.

Untuk memenuhi semua kebutuhan protokol di sekolah, Solirus menuturkan, pihaknya menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS) sesuai petunjuk teknis penggunaan BOS saat pandemi Covid-19.

Solirus menambahkan, segala upaya dilakukannya karena dari total 1.037 siswa, hanya 1/3 yang memiliki gawai. Selain itu, strategi ini juga bertujuan untuk menjawab keluhan orang tua akan kuota internet yang mahal. Sebab rata-rata orang tua murid berprofesi sebagai petani dan nelayan.  

Berita terkait: