Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Industri

Pimpinan MataAir Foundation Muhammad Abdul Idris mengatakan, konsep dasar pendidikan vokasi harus benar-benar memprioritaskan link and match dengan industri.

“Untuk memperkuat link and match, diperlukan adanya inkubasi dan pendampingan sehingga sumber daya manusia (SDM) lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa menjawab tantangan dunia industri saat ini,” kata Idris, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/11/2020).

Sebelumnya, Abdul Idris tampil pada kegiatan Santri Talking Fashion: Opportunity and Challenges yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Kudus, Kabupaten Kudus, Kamis (19/11/2020).

Agenda tersebut diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat dan dihadiri oleh Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran Kemparekraf Iyung Masruroh dan Inovator Fashion SMK yang juga pendiri Indonesian Fashion Chamber Lisa Fitria.

Menurut Abdul Idris, harus ada kolaborasi yang solid antara SMK, pemerintah dengan industri dalam menyusun roadmap pengembangan dunia vokasi khususnya di bidang fashion.

“SMK ini harus benar-benar link and match. Jangan sampai hanya sampai kerjasama level MoU saja. Selain itu, kolaborasi pengembangan SMK adalah kunci. Kompetensi yang mumpuni di dunia fashion tetap harus didukung oleh skill tambahan yaitu komunikasi, jadi komunikasi dan kolaborasi,” kata Idris.

Iyung Masruroh juga membagikan tips untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang fashion guna merespons tantangan dunia industri.

Dia mendorong agar berani berbisnis dengan segala kreativitas yang dimiliki. “Dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk membesarkan kreativitas peserta didik dalam membangun ketepatan brand yang dipilih serta target market yang harus menjadi perhatian,” pungkas perempuan yang akrab disapa Iyung ini.

Di hadapan perwakilan pelajar dan santri vokasi Kabupaten Kudus, Iyung juga berpesan untuk tetap menanamkan perilaku santri di kehidupan sehari-hari. Menurut dia, santri harus tetap berlaku moderat serta adil dan imbang dalam keseharian serta menilai segala sesuatunya.

BACA JUGA

Pemerintah Tetap Berkomitmen Ciptakan SDM Handal

“Misalnya, apabila menanggapi berita yang tidak jelas harus terlebih dahulu melakukan tabayyun, mencari sumber informasi dan tidak asal menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya,” imbuh Iyung.

Selanjutnya, Lisa Fitria yang merupakan Inovator Fashion SMK mengatakan, dia ingin mengubah image bahwa santri itu keren, tidak kuno dan juga siap menjawab tantangan industri melalui dunia fashion desain.

“Saya berangkat dari pesantren, dan melanjutkan pendidikan juga di pesantren, tetapi semua itu tak menghalangi mimpi saya untuk jadi fashion desainer hingga berada di titik ini, sehingga saya mencintai dan sangat excited untuk total berkontribusi membawa santri untuk berani terjun di dunia fashion nasional hingga internasional,” ungkap Lisa.

Lisa pun membagikan pengalamannya yang hanya lulusan pesantren tetapi bisa berkeliling untuk memamerkan karya di 15 negara. Kemudian Lisa juga belajar fashion mode di negara negara yang dikunjunginya.

“Ini pengalaman yang sering saya bagikan kepada adik adik SMK di berbagai daerah, agar mereka berani bermimpi untuk menjadi fashion desainer yang profesional. Kita jangan pernah takut untuk bermimpi, dan tentunya mimpi itu harus dibarengi dengan ikhtiar di jalur yang sama, insyaallah pasti akan tercapai,” jelas Lisa.

Berita terkait: