Kisah Pendiri Uniqlo, Kecil Hidup Susah di Ruko Kini Menjadi Orang Terkaya Jepang

Tak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. Termasuk kemiskinan . Asalkan miliki keinginan berubah dan kerja keras. Hal inilah yang dialami pendiri Uniqlo, Tadashi Yanai.

Tadashi Yanai saat ini adalah salah satu orang terkaya di Jepang. Yanai memiliki kekayaan mencapai USD 31,9 miliar atau sebesar Rp451,83 triliun (kurs Rp14.164). Saat ini usianya menginjak 71 tahun.

Menurut data Bloomberg, kekayaannya tersebut berasal dari posisinya sebagai chairman, CEO, dan juga pemegang saham mayoritas di perusahaan Fast Retailing Co., Ltd. Ini adalah perusahaan pengecer pakaian terbesar di Asia yang di dalamnya terdapat Uniqlo dan beberapa anak usaha.

Pada 1984, Tadashi Yanai membuka toko Uniqlo pertamanya. Sejak itu, dia telah memperluas merek produk yang telah dihasilkannya ke lebih dari 2.000 toko yang tersebar setidaknya di 20 negara di dunia.

Di samping kesuksesannya dalam industri fesyen, ternyata Yanai pun sempat menjadi anggota yang berpengaruh di dewan direksi SoftBank, selama kurang lebih 18 tahun.

Mengutip dari Business Insider pada Rabu (2/12), walaupun Yanai memiliki reputasi yang baik sebagai orang berpengaruh di SoftBank, dia akhirnya mengundurkan diri dari dewan direksi pada akhir 2019. Yanai lebih memilih fokus pada bisnisnya yang bergerak dalam bidang fesyen tersebut.

Kekayaan yang dia raih membuatnya bisa tinggal di sebuah rumah dengan harga USD 50 juta di Tokyo, Jepang. Selain itu, dia juga memiliki dua lapangan golf di Hawaii. Biasanya Yanai menghabiskan beberapa minggu di setiap musim panas untuk bermain golf.

Tadashi Yanai lahir di Jepang pada 1949. Siapa sangka, ayah Yanai dulunya adalah seorang penjual pakaian. Ayahnya memiliki sebuah toko pakaian bernama Toko Pakaian Pria Ogori Shoji.

Toko tersebut menjadi tempat berjualan ayahnya sekaligus sebagai tempat tinggal Yanai dan keluarga. Di lantai pertama menjadi toko, sedangkan di lantai kedua menjadi rumah.

Keadaan keluarganya saat itu tidak menghalangi Yanai untuk menuntut ilmu. Yanai merupakan lulusan Universitas Waseda pada tahun 1971. Dia memperoleh gelar di bidang ekonomi dan politik.

Setelah lulus dari perguruan tinggi tersebut, Yanai mulai bekerja. Dia berjualan pakaian pria dan peralatan dapur di supermarket Jusco. Setelah satu tahun, dia berhenti dari tempat kerjanya dan bekerja untuk membantu ayahnya.

Pada tahun 1984, Yanai akhirnya mendirikan Unique Clothing Warehouse di Hiroshima. Kini nama perusahaan tersebut dikenal dengan Uniqlo. Beberapa tahun kemudian, dia mengubah nama perusahaan ayahnya menjadi Fast Retailing.

Kepopuleran produk Uniqlo menyebabkan perusahaan tumbuh dengan cepatnya selama beberapa tahun kemudian. Salah satu produknya, jaket bulu Uniqlo, merupakan produk terpopuler dengan harga USD 15 pada masa itu, tahun 1998. Kemudian, terhitung sejak 1996 Yanai memiliki lebih dari 200 toko yang tersebar di seluruh Jepang.

Perusahaan Ritel Fesyen Terbesar Ketiga Dunia

fesyen terbesar ketiga dunia rev1

Menurut MoneyWeek, Fast Retailing kini menjadi pengecer pakaian global terbesar ketiga. Dua perusahaan pakaian global terbesar pertama dan kedua adalah H&M dan Inditex yang merupakan perusahaan induk Zara.

Setidaknya Uniqlo – merek Fast Retailing yang paling sukses – memiliki lebih dari 1.900 toko di seluruh dunia, sebanyak 810 toko tersedia di Jepang. Sekitar 50 toko di antaranya berada di AS dan sisanya tersebar di seluruh negara Asia yang mencakup Jepang, China, Hongkong, dan Korea Selatan.

“Pakaian Uniqlo ditujukan untuk semua orang dari berbagai jenis kalangan, seperti miliarder, kelas menengah, kelas bawah. Kita perlu layani semua, seperti Marks and Spencer, GAP, H&M, atau Zara. Jika kami tidak melayani semua segmen kehidupan dan masyarakat, kami tidak dapat sukses,” kata Yanai kepada Tim Vault Magazine, seperti mengutip Business Insider.

Pernyataan tersebut dia katakan karena Yanai ingin Fast Retailing menjadi pengecer pakaian terbesar di dunia. H&M dan Zara merupakan rival terbesar Fast Retailing.

Yanai mengatakan salah satu tujuannya adalah membuat pendapatan perusahaan bisa meraih hingga USD 29 miliar pada 2020. Hal itu dikatakan Yanai kepada Forbes Asia pada 2017. Akhirnya dia bisa membuka toko Uniqlo pertamanya di Denmark, Italia, India, dan Vietnam pada 2019.

Menurut laporan Reuters, selama pandemi Covid-19 ini, Fast Retailing mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam. Lama operasionalnya diperkirakan turun hingga 50 persen dan penjualannya pun akan turun 13 persen dari tahun sebelumnya karena krisis pandemi ini.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Sumber: Liputan6

Baca juga:
Kekayaan Elon Musk Naik 4 Kali Lipat Berkat Saham Tesla
China Kembali Cetak Miliuner Baru dari Bidang Informasi Teknologi
Miliarder Asal AS ini Hibahkan Seluruh Hartanya untuk Amal
Deretan Wanita Terkaya dari Keringat Sendiri
Miliuner Mark Cuban Bocorkan Kunci yang Harus Dimilik Bila Ingin Sukses
Kekayaan 400 Orang Terkaya China Bertambah Rp30,4 T Meski di Tengah Pandemi Corona

Berita terkait: